Pelecehan Verbal di Game Online dan Chat: Bukti, Pelaporan, dan Batas Pidana
Isi artikel
Apa yang dimaksud pelecehan verbal daring
Pelecehan verbal daring adalah ucapan atau tulisan yang merendahkan, menghina, mengancam, atau melecehkan seseorang lewat internet. Bentuknya bisa chat teks dalam game, suara (*voice chat*), pesan pribadi, komentar siaran langsung, atau grup percakapan.
Contoh bentuknya:
- Hinaan terhadap fisik, keluarga, suku, agama, atau orientasi tertentu.
- Ancaman akan mencelakai atau menyebarkan data pribadi.
- Komentar dan ajakan bernuansa seksual yang tidak diinginkan.
- Pemerasan: mengancam menyebarkan foto atau percakapan kecuali korban memberi uang atau barang.
- Perundungan terus-menerus oleh satu orang atau kelompok.
Tidak semua kata kasar adalah tindak pidana. Hukum membedakan antara ucapan kasar yang tidak sopan dan perbuatan yang memenuhi rumusan pidana atau perbuatan melawan hukum. Karena itu, penting memahami batasnya.
Aturan yang mungkin berlaku
Beberapa aturan yang sering dikaitkan dengan kasus semacam ini:
- UU ITE (UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, sebagaimana diubah dengan UU No. 1 Tahun 2024) yang memuat larangan tertentu terkait penyebaran informasi elektronik, termasuk yang menyerang kehormatan dan yang bersifat pemerasan atau pengancaman. Sebagian ketentuan UU ITE telah disesuaikan dengan KUHP baru.
- KUHP baru (UU No. 1 Tahun 2023, berlaku 2 Januari 2026) yang memuat tindak pidana seperti penghinaan, pengancaman, dan pemerasan.
- UU TPKS (UU No. 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual) yang mencakup kekerasan seksual nonfisik dan yang berbasis elektronik.
- UU Perlindungan Anak bila korban atau pelaku berusia di bawah 18 tahun.
Rumusan dan ancaman pidana pada undang-undang di atas dapat berubah. Periksa teks resmi terbaru atau konsultasikan dengan advokat sebelum menentukan pasal yang dipakai. Artikel ini sengaja tidak menyebut nomor pasal atau besaran pidana.
Kapan perbuatan menjadi pidana
Pertanyaan praktisnya: apakah ucapan itu sekadar kasar, atau sudah menyerang kehormatan, mengancam, memeras, atau bersifat seksual? Beberapa penanda:
| Penanda | Mengarah ke |
|---|---|
| Umpatan umum tanpa menyebut sasaran jelas | Umumnya belum pidana; cukup lapor platform |
| Tuduhan atau hinaan yang diarahkan ke orang tertentu dan disebarkan | Kemungkinan penghinaan atau pencemaran |
| Janji mencelakai, mengancam datang ke rumah | Kemungkinan pengancaman |
| Meminta uang atau barang dengan ancaman membuka rahasia | Kemungkinan pemerasan |
| Komentar atau ajakan seksual yang tidak diinginkan, kiriman gambar tidak senonoh | Kemungkinan kekerasan seksual nonfisik atau berbasis elektronik |
| Menyebarkan alamat atau data pribadi | Kemungkinan pelanggaran data pribadi; lihat Doxing dan Penyebaran Data Pribadi |
Beberapa tindak pidana penghinaan merupakan delik aduan, artinya baru diproses bila korban sendiri melapor. Pada beberapa jenis lain, penegak hukum dapat bertindak tanpa aduan. Bila korban adalah anak, pelaporan biasanya dibantu orang tua atau wali.
Menyimpan bukti dengan benar
Bukti elektronik mudah hilang. Pelaku dapat menghapus pesan atau menutup akun. Simpan secepatnya.
- Tangkapan layar yang menunjukkan nama akun, ID pengguna, isi pesan, tanggal, dan jam. Jangan memotong tampilan sehingga identitas hilang.
- Rekaman layar untuk percakapan yang panjang atau yang mengalir seperti siaran langsung.
- Rekaman suara bila game menyediakan fitur rekam, atau catat waktu kejadian bila tidak.
- Catat identitas. Nama pengguna, ID akun, nama server, kode pertandingan, dan tautan profil.
- Simpan berkas asli di lebih dari satu tempat, misalnya di ponsel dan penyimpanan awan.
- Buat catatan kronologi singkat: apa yang terjadi, kapan, dan dampaknya.
Contoh: Seorang pemain remaja berulang kali dihina dalam voice chat oleh pemain lain, lalu pelaku mengancam akan menyebarkan alamat rumahnya. Orang tuanya membantu mengambil tangkapan layar, mencatat ID akun pelaku, dan menyimpan tautan profil. Setelah itu mereka melapor ke pengelola game dan, karena ada ancaman terhadap keamanan, berkonsultasi dengan pihak berwajib. Karena buktinya tersusun rapi, laporan lebih mudah ditindaklanjuti.
Jangan membalas dengan ancaman, hinaan, atau menyebarkan identitas pelaku. Balasan semacam itu dapat membuat Anda ikut dilaporkan dan melemahkan posisi Anda sebagai korban.
Lindungi akun sendiri: aktifkan verifikasi dua langkah, atur privasi profil, matikan voice chat dengan orang asing, dan jangan membagikan data pribadi di kolom obrolan.
Melapor ke platform
Hampir setiap game dan layanan chat memiliki fitur laporan (*report*) serta aturan komunitas yang melarang pelecehan. Langkahnya:
- Gunakan fitur laporan pada pesan atau akun yang bermasalah.
- Pilih kategori yang paling sesuai, misalnya pelecehan, ancaman, atau konten seksual.
- Lampirkan bukti bila diminta.
- Simpan nomor tiket atau konfirmasi laporan.
- Blokir akun pelaku agar tidak dapat menghubungi lagi.
Platform dapat menjatuhkan sanksi akun, seperti peringatan, pembatasan fitur, atau penutupan akun. Sanksi itu tidak sama dengan proses pidana, tetapi berguna menghentikan gangguan dan menjadi bukti bahwa korban sudah berusaha menyelesaikan lewat jalur yang tersedia.
Perlindungan anak di ruang digital kini juga diatur dalam PP No. 17 Tahun 2025 tentang tata kelola penyelenggaraan sistem elektronik dalam pelindungan anak, yang membebankan kewajiban kepada penyelenggara platform, misalnya menyediakan fitur persetujuan orang tua dan pengaturan privasi yang tinggi. Pemberitaan tentang penerapannya menunjukkan pengaturan teknis masih berkembang, sehingga cek perkembangan terbaru.
Melapor ke kepolisian
Bila perbuatan sudah mengarah ke pidana, korban atau orang tuanya dapat melapor ke kepolisian setempat. Bawa:
- Identitas diri korban (dan identitas orang tua bila korban anak).
- Cetakan dan berkas digital bukti, ditambah ponsel yang berisi bukti asli.
- Kronologi tertulis.
- Data pelaku yang diketahui (nama akun, ID, tautan).
Petugas akan menilai apakah laporan memenuhi unsur pidana dan jenis aduannya. Pelaku daring sering memakai identitas palsu, sehingga penelusuran memerlukan kerja sama dengan platform. Hasilnya tidak dapat dijamin, tetapi laporan yang bukti dan kronologinya rapi lebih mudah diproses. Untuk gambaran umum kasus penghinaan digital, baca Pencemaran Nama Baik: UU ITE dan KUHP dan Ujaran Kebencian dan SARA di Media Sosial.
Bila pelaku atau korban adalah anak
Banyak pemain game berusia di bawah 18 tahun. Bila pelakunya anak, penanganan mengikuti sistem peradilan pidana anak, yang menekankan pembinaan dan diversi. Lihat Anak Berhadapan dengan Hukum dan Diversi. Bila korbannya anak, orang tua atau wali berperan mendampingi, dan sekolah dapat dilibatkan jika pelaku adalah teman sekolah. Panduan terkait ada di Perundungan (Bullying) Anak di Sekolah.
Kesalahan umum
- Hanya membalas di kolom obrolan tanpa menyimpan bukti.
- Mengunggah identitas pelaku ke media sosial. Tindakan ini bisa menjadi pelanggaran data pribadi.
- Membagikan alamat atau nomor telepon kepada orang yang baru dikenal di game.
- Menganggap semua pelecehan harus langsung dilaporkan ke polisi, padahal sebagian cukup ditangani lewat platform.
- Menunda mengambil bukti sampai akun pelaku hilang.
- Membayar uang kepada pemeras. Pembayaran tidak menjamin ancaman berhenti.
Pelecehan di ruang obrolan komunitas
Selain game, komunitas daring seperti server obrolan, grup pesan, dan kolom komentar siaran langsung juga rawan. Di ruang ini ada peran moderator atau admin. Mereka biasanya berwenang mengeluarkan anggota, menghapus pesan, dan menyimpan catatan. Kirim laporan kepada admin dengan bukti, dan minta agar catatan tindakan disimpan. Jika admin tidak bertindak, laporkan ke platform tempat komunitas itu berjalan.
Admin yang membiarkan atau ikut memelihara pelecehan tidak otomatis bertanggung jawab pidana, tetapi dapat dimintai keterangan sebagai saksi. Pemilik grup yang sengaja menyebarkan konten melanggar hukum dapat menghadapi masalah sendiri.
Dampak psikologis dan dukungan
Pelecehan daring bisa berdampak nyata: cemas, takut bermain, menarik diri, atau prestasi menurun. Hukum hanya satu bagian dari penanganan. Korban, terutama anak dan remaja, perlu didengarkan tanpa disalahkan. Beberapa langkah pendukung:
- Beri tahu orang yang dipercaya (orang tua, wali, guru, teman).
- Bila gejala berlanjut, cari bantuan tenaga profesional kesehatan jiwa.
- Beristirahat dari akun atau game yang menjadi sumber gangguan.
- Hubungi layanan pengaduan perlindungan perempuan dan anak setempat bila korban perempuan atau anak. Cari informasi layanan resmi di pemerintah daerah.
Kesehatan korban lebih penting daripada hasil perkara.
Pelecehan antar-teman dan lingkungan sekolah
Banyak kasus terjadi antar-teman yang saling mengenal di dunia nyata. Pelecehan di game bisa berlanjut di sekolah, atau sebaliknya. Dalam kondisi ini, sekolah memiliki peran: tim pencegahan dan penanganan kekerasan di satuan pendidikan dapat dilibatkan. Serahkan bukti kepada wali kelas atau guru bimbingan konseling, dan minta tindak lanjut tertulis. Penyelesaian yang menekankan pemulihan korban dan pembinaan pelaku sering lebih efektif untuk anak.
Perbedaan perbuatan melawan hukum perdata dan pidana
Selain jalur pidana, korban dapat menempuh jalur perdata berupa gugatan perbuatan melawan hukum bila ada kerugian yang dapat dibuktikan, misalnya biaya pemulihan nama atau pengobatan. Jalur perdata memerlukan identifikasi pelaku yang jelas dan pembuktian kerugian, sehingga jarang dipakai untuk kasus ringan. Jalur pidana berfokus pada penghukuman pelaku, sedangkan jalur perdata berfokus pada ganti rugi. Konsultasikan dengan advokat untuk memilih jalur yang paling sesuai.
Hak untuk dilupakan dan penghapusan konten
Bila pelecehan berbentuk konten yang tersebar, misalnya potongan video atau tangkapan layar yang mempermalukan, korban dapat meminta platform menghapus konten tersebut melalui fitur pelaporan. Undang-undang tentang pelindungan data pribadi juga memberi hak kepada pemilik data untuk meminta penghapusan atau penghentian pemrosesan data dalam kondisi tertentu. Lihat Hak Subjek Data Pribadi (UU PDP). Cantumkan tautan konten, alasan permintaan, dan bukti identitas saat mengajukan.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah hinaan dalam voice chat bisa jadi bukti? Rekaman suara dapat menjadi bukti elektronik bila dapat dipertanggungjawabkan keasliannya. Karena itu simpan rekaman asli, catat waktu, dan catat identitas akun. Penilaian akhir ada pada penegak hukum atau hakim.
Apakah laporan ke platform cukup? Untuk gangguan ringan, laporan ke platform sering sudah menghentikan masalah. Untuk ancaman, pemerasan, atau pelecehan seksual, pertimbangkan jalur pidana juga.
Apakah anak yang mengancam di game bisa dipidana? Anak yang berusia sesuai ketentuan dapat diproses dalam sistem peradilan pidana anak, tetapi pembinaan dan diversi diutamakan. Detail usia dan syarat perlu dicek pada undang-undang yang berlaku.
Ringkasan
Pelecehan verbal di game dan chat tidak selalu pidana, tetapi bisa menjadi pidana bila menyerang kehormatan, mengancam, memeras, atau bersifat seksual. Simpan bukti lengkap, laporkan ke platform, dan pertimbangkan laporan polisi untuk kasus serius. Hindari membalas dengan cara yang melanggar hukum. Bila anak terlibat, libatkan orang tua, sekolah, dan prinsip pembinaan. Periksa teks resmi terbaru untuk pasal dan ancaman pidana.
Artikel ini informasi umum untuk edukasi, bukan nasihat hukum untuk perkara tertentu. Setiap kasus punya fakta dan dokumen yang berbeda, sehingga sebaiknya dikonsultasikan dengan advokat.
- Bisnis.com: Kewajiban platform dalam PP Tunas — teknologi.bisnis.com/read/20260505/101/1971394/10-kewajiban-platform-dalam-pp-tunas-yang-perlu-diketahui-pse
Informasi per Oktober 2026. Peraturan dapat berubah; cek teks resmi di peraturan.go.id atau situs instansi terkait.
Dasar hukum
- UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (sebagaimana diubah, termasuk dengan UU No. 1 Tahun 2024)
- UU No. 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
- UU No. 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual
- UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
- PP No. 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak
Baca juga
- Pencemaran Nama Baik: UU ITE (UU 1/2024) dan KUHP, Unsur, Batasan, dan Delik Aduan
- Doxing dan Penyebaran Data Pribadi: Langkah Hukum dan Cara Menghapus Konten
- Anak Berhadapan dengan Hukum: Batas Umur, Diversi, Hak Anak, dan Proses Menurut UU SPPA
Ada masukan atau pendapat lain? Kirim lewat WhatsApp atau telepon 0813-3040-8000.