Konsumen & Keuangan

Arisan Uang secara Hukum: Perjanjian, Wanprestasi Peserta, dan Kapan Bandar Bisa Dipidana

Diperbarui

Isi artikel
    ALUR SINGKATMenyelesaikan arisan yang macet1Kumpulkan catataniuran dan daftargiliran2Tagih secara tertulisdan beri tenggat3Buat kesepakatanpembayaran tertulis4Tempuh gugatansederhana bila perlu5Laporkan bila adaunsur menggelapkanatau menipu
    Ilustrasi edukatif, dibuat khusus untuk artikel ini.

    Apa itu arisan dan siapa yang terkena

    Arisan adalah kegiatan mengumpulkan uang secara berkala oleh sekelompok orang, lalu uang yang terkumpul diberikan kepada seorang anggota yang ditentukan melalui undian atau kesepakatan, sampai seluruh anggota mendapat giliran. Secara hukum, arisan adalah perjanjian tidak tertulis atau tertulis antara peserta, dan sering ada pengelola atau bandar yang mengumpulkan serta menyalurkan dana.

    Yang terkena aturan ini adalah peserta, pengelola, dan pihak yang menjadi penjamin atau penerima iuran. Arisan keluarga, arisan kantor, arisan ibu-ibu, hingga arisan daring melalui aplikasi percakapan berstatus sama: perjanjian yang mengikat bagi yang menyepakatinya. Untuk contoh kasus pengelola yang membawa kabur uang, lihat arisan online kabur bandar dan arisan macet.

    Penting dibedakan dari arisan yang berubah menjadi skema investasi. Arisan daring yang menjanjikan keuntungan pasti bagi pemenang, mengharuskan setoran besar, atau merekrut peserta baru demi membayar peserta lama mendekati skema Ponzi. Ciri-cirinya dijelaskan di skema Ponzi, piramida, dan MLM berkedok uang.

    Aturan yang berlaku dalam bahasa sehari-hari

    • Perjanjian sah mengikat. Menurut KUH Perdata, perjanjian sah bila ada kesepakatan, kecakapan, hal tertentu, dan sebab yang halal (Pasal 1320). Perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi pihak yang membuatnya (Pasal 1338). Arisan yang disepakati bersama memenuhi hal itu walau tidak ditulis.
    • Wanprestasi. Wanprestasi atau ingkar janji terjadi bila peserta tidak membayar iuran sesuai kesepakatan setelah menerima giliran. Pihak yang dirugikan dapat menuntut pemenuhan, ganti rugi, atau pembatalan. Dasarnya antara lain Pasal 1243 KUH Perdata. Penjelasan umum ada di somasi dan wanprestasi.
    • Penggelapan. Bila pengelola menerima iuran untuk diserahkan kepada pemenang tetapi memakainya untuk keperluan pribadi, perbuatannya dapat memenuhi unsur penggelapan. Dalam KUHP baru yang berlaku sejak 2 Januari 2026, penggelapan diatur dalam Pasal 486.
    • Penipuan. Bila sejak awal pengelola membuat arisan dengan niat mengambil uang peserta, memakai cerita palsu, atau menjanjikan hal yang tidak ada, perbuatannya bisa masuk penipuan (Pasal 492 KUHP baru). Perbedaan keduanya dibahas di penipuan dan penggelapan, perbedaannya.
    • Bukan pidana otomatis. Utang peserta yang tidak membayar karena kesulitan keuangan pada dasarnya persoalan perdata. Pembuktian pidana memerlukan niat jahat dan perbuatan tertentu.
    Sekelompok orang berdiri membentuk lingkaran di taman
    Foto oleh Olek Buzunov di Unsplash

    Wanprestasi atau pidana: cara menilainya

    SituasiKecenderungan penilaian
    Peserta sudah menerima giliran, lalu tidak lagi membayar karena kesulitanWanprestasi (perdata)
    Peserta menyatakan akan bayar dan mencicilWanprestasi, bisa diselesaikan musyawarah
    Pengelola memakai iuran untuk keperluan pribadi dan tidak menyerahkan ke pemenangPenggelapan
    Pengelola membuat arisan fiktif, peserta tidak pernah ada, atau bukti palsuPenipuan
    Pengelola mengundurkan diri dan mengembalikan sisa iuranBukan pidana
    Peserta mengaku sudah membayar tetapi catatan tidak adaSengketa pembuktian

    Pidana dan perdata dapat berjalan berdampingan, tetapi sebelum melapor sebaiknya pertimbangkan tujuan Anda. Bila tujuan utama adalah uang kembali, penyelesaian damai dan gugatan sederhana sering lebih realistis. Dasar pembedaan pidana dan perdata ada pada pidana dan perdata.

    Langkah praktis bernomor bila arisan macet

    1. Kumpulkan catatan. Daftar peserta, tanggal iuran, bukti transfer, daftar penerima giliran, dan percakapan grup.
    2. Hitung jumlah yang dipersoalkan. Hitung iuran yang belum dibayar atau uang yang belum diserahkan, rinci per tanggal.
    3. Komunikasikan secara tertulis. Kirim pesan sopan berisi jumlah, dasar hitungan, dan batas waktu pembayaran.
    4. Usahakan musyawarah. Banyak persoalan selesai dengan skema cicilan. Tuangkan kesepakatan dalam surat pernyataan bermeterai; lihat kwitansi sebagai alat bukti dan meterai yang diperlukan.
    5. Kirim somasi. Jika tidak ada tanggapan, kirim peringatan tertulis resmi dengan tenggat wajar.
    6. Tempuh gugatan sederhana. Untuk tagihan dengan nilai yang masuk batas gugatan sederhana, prosesnya lebih ringkas dan tanpa harus memakai advokat. Panduan ada di gugatan sederhana: menagih utang kecil tanpa pengacara. Batas nilainya perlu dicek pada peraturan Mahkamah Agung yang berlaku.
    7. Lapor polisi bila ada unsur pidana. Bawa bukti yang menunjukkan uang diterima, dipakai untuk kepentingan lain, dan pengelola menghilang atau menolak menyerahkan.
    8. Jaga hubungan. Hindari mempermalukan di grup. Ancaman dan penyebaran data pribadi dapat menjadi masalah hukum baru.

    Perubahan aturan yang perlu Anda ketahui

    Aturan perdata tentang perjanjian dalam KUH Perdata relatif stabil. Perubahan yang berdampak ada pada pidana: KUHP baru berlaku sejak 2 Januari 2026 sehingga penggelapan kini Pasal 486 dan penipuan Pasal 492. Hukum acara pidana juga berganti dengan KUHAP baru (UU No. 20 Tahun 2025). Di sisi perdata, gugatan sederhana tetap tersedia, tetapi batas nilai dan tata caranya diatur peraturan Mahkamah Agung yang dapat berubah. Arisan daring yang berkembang pesat juga bersinggungan dengan UU ITE (terakhir diubah dengan UU No. 1 Tahun 2024) dan UU Pelindungan Data Pribadi bila data peserta disebarluaskan.

    Dampaknya: bukti elektronik seperti tangkapan layar dan bukti transfer makin diterima sebagai bukti, tetapi tetap perlu dijaga keutuhannya. Pelajari alat bukti perdata dan bukti elektronik.

    Menyusun arisan yang lebih aman

    Hukum tidak mengharuskan arisan tertulis, namun tulisan sangat membantu. Perjanjian sederhana cukup memuat nama peserta, besaran iuran, tanggal setor, cara menentukan giliran, tanggung jawab pengelola, sanksi keterlambatan, dan penyelesaian bila ada yang gagal bayar. Dengan begitu, bukti tersedia dan harapan semua pihak jelas.

    Beberapa kebiasaan baik: rekening khusus yang namanya jelas, laporan berkala yang dibagikan ke semua peserta, bukti serah terima setiap giliran, dan penjamin untuk peserta yang belum dikenal baik. Sebaiknya pengelola tidak mencampur uang arisan dengan uang pribadi. Pengelola yang memungut biaya administrasi sebaiknya menyebutnya terbuka sejak awal.

    Contoh: Bu Tini mengelola arisan dua puluh orang dan mengumpulkan iuran ke rekening pribadinya. Pada bulan kesepuluh, penerima giliran belum menerima uang karena Bu Tini memakai dana untuk usaha yang merugi. Ia mengaku dan berjanji mencicil. Peserta mengumpulkan catatan, membuat kesepakatan cicilan tertulis bermeterai, dan Bu Tini membayar secara bertahap. Karena Bu Tini terbuka dan tidak menghilang, peserta memilih jalur damai. Jika ia menghilang dan memblokir kontak, laporan penggelapan menjadi pertimbangan.

    Peringatan

    Waspadai arisan daring yang menjanjikan penerima mendapat lebih besar daripada iuran, memakai undian tidak transparan, atau mewajibkan setor ke rekening perorangan yang berganti-ganti. Jangan menyebarkan identitas peserta yang gagal bayar di media sosial karena dapat berbalik menjadi masalah pidana.

    Tips

    Biasakan setiap serah terima uang arisan dibuktikan dengan foto bukti transfer di grup dan konfirmasi singkat dari penerima. Bukti kecil seperti ini sangat berguna bila nanti timbul sengketa.

    Arisan daring dan arisan lewat grup percakapan

    Arisan daring bertambah mudah diikuti, tetapi risikonya berbeda. Peserta sering tidak saling kenal, bandar hanya dikenal lewat akun, dan bukti hanya berupa tangkapan layar. Pastikan identitas pengelola jelas: nama sebenarnya, nomor rekening atas nama yang sama, dan alamat. Hindari arisan yang meminta setoran sekaligus besar di depan atau menjanjikan giliran dipercepat dengan membayar lebih.

    Arisan dengan sistem undian yang tidak dapat diverifikasi membuka peluang kecurangan. Praktik baiknya adalah undian yang disaksikan peserta, misalnya melalui panggilan video, dan hasilnya dicatat di grup.

    Penjamin dan jaminan dalam arisan

    Beberapa arisan meminta jaminan dari peserta yang menerima giliran awal, misalnya penjamin orang lain. Penjamin menanggung kewajiban bila peserta gagal membayar. Konsekuensinya serius, sehingga sebelum menjadi penjamin pahami batasnya. Penjelasan ada di utang karena menjadi penjamin pinjaman teman.

    Peserta yang meninggal atau pindah

    Arisan sering tidak mengatur peserta yang meninggal atau pindah jauh. Kewajiban iuran pada dasarnya dapat beralih kepada ahli waris sejauh peserta sudah menerima giliran. Sebaiknya aturan ini disepakati sejak awal: apakah giliran diganti peserta baru, apakah sisa iuran dikembalikan, atau apakah ahli waris melanjutkan. Kesepakatan tertulis mengurangi perselisihan di masa duka.

    Batas penagihan

    Menagih peserta wajib dilakukan dengan cara santun. Mendatangi rumah berulang kali, menyebarkan nama di media sosial, atau mengancam dapat menjadi persoalan pidana tersendiri. Etika penagihan yang aman dibahas di etika penagihan utang: jam dan cara yang boleh.

    Kesalahan umum

    • Tidak mencatat iuran dan giliran.
    • Percaya sepenuhnya tanpa bukti setor.
    • Memilih lapor polisi padahal masalahnya wanprestasi biasa.
    • Mencampur uang arisan dengan uang pribadi.
    • Mengikuti arisan daring dengan pengelola yang tidak dikenal.
    • Mengancam atau mempermalukan peserta gagal bayar.
    • Menunda menagih sampai bukti hilang atau lewat waktu.
    • Menandatangani pernyataan tanpa membaca isinya.

    Pertanyaan yang sering diajukan

    Apakah arisan tanpa tulisan tetap bisa ditagih? Bisa, karena perjanjian lisan tetap mengikat. Namun pembuktian lebih sulit. Bukti transfer, percakapan, dan saksi peserta menjadi andalan.

    Peserta sudah menang tetapi berhenti bayar, bolehkah dipidana? Umumnya persoalan perdata atau wanprestasi. Pidana memerlukan unsur lain seperti penggelapan atau penipuan yang harus dibuktikan.

    Pengelola tidak menyerahkan uang kepada pemenang, apa langkahnya? Tagih tertulis, minta pertanggungjawaban, lalu pertimbangkan gugatan atau laporan penggelapan bila uang dipakai untuk kepentingan pribadi.

    Apakah arisan termasuk judi? Arisan yang setiap peserta pada akhirnya menerima kembali uangnya sebesar iuran bukan perjudian. Arisan yang menggantungkan hasil murni pada untung-untungan dengan peserta yang dapat rugi perlu dinilai khusus. Konsultasikan bila ada keraguan.

    Ringkasan

    • Arisan adalah perjanjian yang mengikat walau tidak tertulis.
    • Peserta yang berhenti membayar umumnya wanprestasi; pengelola yang memakai uang untuk diri sendiri dapat dijerat penggelapan atau penipuan.
    • Penggelapan KUHP baru Pasal 486 dan penipuan Pasal 492 berlaku sejak 2 Januari 2026.
    • Kumpulkan catatan, tagih tertulis, musyawarah, lalu gugatan sederhana atau laporan.
    • Tulis aturan arisan dan catat setiap setoran.
    • Waspadai arisan daring yang menjanjikan untung pasti.
    📌 Catatan

    Artikel ini informasi umum untuk edukasi, bukan nasihat hukum untuk perkara tertentu. Setiap kasus punya fakta dan dokumen yang berbeda, sehingga sebaiknya dikonsultasikan dengan advokat.

    📚 Sumber Rujukan

    Informasi per Oktober 2026. Peraturan dapat berubah; cek teks resmi di peraturan.go.id atau situs instansi terkait.

    Dasar hukum

    Baca juga

    WhatsApp