Hak Anak Didengar Pendapatnya dalam Perceraian: Konvensi Hak Anak dan UU Perlindungan Anak
Isi artikel
Apa itu hak didengar dan siapa yang terkena
Hak didengar berarti anak berhak menyatakan pendapatnya tentang hal yang memengaruhi hidupnya, dan pendapat itu diperhatikan sesuai usia dan kematangannya. Dalam perceraian, hal yang dimaksud adalah dengan siapa anak tinggal, bagaimana jadwal bertemu orang tua, di mana ia bersekolah, dan sejenisnya.
Dasarnya ada pada dua lapis hukum. Pertama, Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of the Child), yang diratifikasi Indonesia dengan Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990, menyatakan anak yang mampu membentuk pandangan sendiri berhak menyatakan pandangan itu secara bebas dalam semua hal yang memengaruhinya, dan pandangan itu diberi bobot sesuai usia dan kematangan. Kedua, UU Perlindungan Anak menyatakan bahwa setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya, serta menerima, mencari, dan memberi informasi sesuai tingkat kecerdasan dan usianya.
Yang terkena: anak dari pasangan yang bercerai, orang tua yang berperkara, hakim, pekerja sosial, dan pendamping anak. Bacaan umum tentang hak asuh ada di hak asuh anak setelah perceraian.
Bagaimana pengadilan mempertimbangkan pendapat anak
Aturan perceraian tidak menetapkan prosedur tunggal bagi pendengaran anak. Dalam praktik, ada beberapa cara:
- Pendapat anak disampaikan lewat pekerja sosial atau psikolog, yang kemudian menyusun laporan untuk hakim.
- Hakim bertemu langsung dengan anak di ruang yang ramah anak atau di ruang hakim, dengan atau tanpa kehadiran pendamping.
- Anak hadir sebagai saksi dalam kondisi tertentu, meskipun cara ini dihindari karena dapat menimbulkan tekanan.
- Pernyataan tertulis dari anak yang lebih besar, disampaikan melalui pendamping.
Bagi pasangan Muslim, Kompilasi Hukum Islam (KHI) memberi pedoman umum bahwa anak yang belum mumayyiz (belum berusia 12 tahun) pemeliharaannya adalah hak ibunya, sedangkan anak yang sudah mumayyiz dapat memilih antara ayah atau ibunya. Pedoman ini sering dijadikan acuan, tetapi hakim tetap menimbang kepentingan terbaik anak dan dapat menyimpang dari pedoman bila ada alasan kuat. Pembahasan lanjut: hak asuh bukan pemenang.
Poin penting: pendapat anak adalah salah satu pertimbangan. Anak yang memilih tinggal dengan orang tua tertentu karena diberi hadiah atau karena takut dimarahi tidak otomatis dipenuhi. Hakim akan menilai alasan di balik pilihan.
Mengapa mendengar anak penting
Alasan-alasannya:
- Anak memahami pengalamannya. Hakim dapat memperoleh gambaran tentang kenyamanan, keamanan, dan kedekatan.
- Keputusan yang melibatkan anak lebih mudah dijalankan. Anak yang merasa dihargai lebih kooperatif.
- Mengurangi rasa tidak berdaya. Anak yang tidak didengar dapat merasa bersalah atau marah.
- Mendeteksi masalah. Anak dapat mengungkap kekerasan atau penelantaran yang tidak diketahui.
- Memenuhi kewajiban hukum. Negara terikat konvensi dan undang-undang.
Namun pendengaran anak harus memperhatikan risiko. Anak tidak boleh dibuat menjadi pihak yang memilih "antara ayah dan ibu" secara terbuka di hadapan keduanya, karena beban psikologis berat. Banyak hakim memilih mendengar anak secara tertutup atau melalui pendamping.
Langkah praktis bagi orang tua
- Bicara dengan anak sebelum sidang. Jelaskan dengan bahasa sederhana bahwa orang tua berpisah, bahwa itu bukan salah anak, dan bahwa anak tetap disayangi.
- Jangan mengarahkan jawaban. Hindari melatih anak untuk berkata tertentu. Hakim dan psikolog cepat mengenali jawaban yang diarahkan, dan hal itu dapat merugikan Anda.
- Sampaikan keinginan anak kepada hakim secara terbuka. Bila anak ingin didengar, beri tahu hakim atau kuasa hukum. Bila anak tidak ingin, hormati.
- Mintalah pendampingan. Pekerja sosial, psikolog, atau lembaga perlindungan anak dapat mendampingi. Lihat anak sebagai saksi atau korban: pendampingan.
- Siapkan lingkungan yang aman. Anak tidak boleh didengar di depan kedua orang tua yang bertikai, tanpa pendamping, atau dalam suasana intimidatif.
- Gunakan mediasi. Mediasi di pengadilan dapat memasukkan pendapat anak melalui mediator yang terlatih.
- Ikuti putusan dan jelaskan pada anak. Setelah putusan keluar, jelaskan secara tenang. Jangan menyalahkan anak atau pihak lain.
- Pantau dan komunikasikan. Bila keadaan berubah, misalnya anak menolak tinggal, bicarakan kembali dan, bila perlu, ajukan perubahan putusan. Baca mengubah putusan hak asuh yang sudah berkekuatan tetap.
Biaya khusus untuk pendengaran anak pada dasarnya tidak ada, tetapi bila Anda memakai psikolog swasta, biayanya ditanggung sendiri. Pengadilan dan dinas sosial dapat menyediakan petugas tanpa biaya.
Perubahan aturan yang perlu Anda ketahui
Hak anak didengar bukan hal baru, tetapi penerapannya makin kuat. Konvensi Hak Anak sudah berlaku sejak ratifikasi 1990. UU Perlindungan Anak diperbarui lewat UU No. 35 Tahun 2014 dan UU No. 17 Tahun 2016. Mahkamah Agung dari waktu ke waktu menerbitkan pedoman bagi hakim dalam perkara yang menyangkut anak dan perempuan; tanyakan pedoman terbaru kepada pengadilan setempat. Perkembangan lain adalah sidang yang semakin mengandalkan sarana elektronik, sehingga cara mendengar anak dapat memakai ruang ramah anak atau sarana daring. Selalu cek ke pengadilan setempat tentang fasilitas yang tersedia.
Perubahan KUHP dan KUHAP baru yang berlaku sejak 2 Januari 2026 lebih berpengaruh pada perkara pidana. Pada perkara perceraian, sidang tetap mengikuti hukum acara perdata. Namun bila ada dugaan kekerasan terhadap anak, jalur pidana terbuka, dan perlindungan saksi serta korban diatur oleh UU No. 3 Tahun 2026.
Kesalahan umum
| Kesalahan | Akibat | Cara menghindari |
|---|---|---|
| Melatih anak untuk berbicara tertentu | Dinilai manipulatif | Biarkan anak jujur |
| Menanyakan "pilih ayah atau ibu" di depan kedua orang tua | Beban psikologis | Gunakan pendamping dan ruang aman |
| Memaksa anak hadir | Trauma | Tanyakan keinginan anak |
| Menganggap pendapat anak mengikat | Salah paham | Pendapat adalah salah satu pertimbangan |
| Menjelekkan pasangan pada anak | Memengaruhi hubungan | Pisahkan konflik orang dewasa |
| Mengabaikan anak remaja | Anak memberontak | Libatkan sesuai usia |
Contoh: Pasangan yang bercerai memiliki dua anak, berusia lima dan tiga belas tahun. Hakim meminta pekerja sosial berbicara dengan keduanya. Anak yang lebih besar mengatakan ingin tinggal dekat sekolahnya dan tetap sering bertemu ayahnya. Anak kecil dianggap belum cukup matang untuk memilih, sehingga hakim mempertimbangkan kebutuhan pengasuhan. Putusan memutuskan pengasuhan dan jadwal yang berbeda sesuai kebutuhan masing-masing. Kisah ini fiktif.
Jangan pernah memaksa, menjanjikan hadiah, atau mengancam anak agar memihak. Tindakan itu dapat melukai anak, merusak kredibilitas Anda di pengadilan, dan dalam kasus tertentu dapat dianggap kekerasan psikis terhadap anak.
Sampaikan kepada anak bahwa ia tidak sedang "menentukan" siapa yang menang. Katakan bahwa pendapatnya didengar dan keputusan akhir diambil orang dewasa dan hakim demi kebaikannya. Kalimat ini mengurangi beban memilih.
Usia dan kematangan: kapan pendapat anak berbobot
Tidak ada usia pasti yang menyatakan pendapat anak berbobot penuh. Pedoman internasional menekankan penilaian kematangan, bukan sekadar umur. Secara umum:
- Balita dan anak prasekolah. Pendapat sulit digali secara verbal. Hakim lebih mengandalkan pengamatan, psikolog, dan laporan pekerja sosial.
- Usia sekolah dasar. Anak mulai dapat menjelaskan alasan sederhana. Pendapatnya dipertimbangkan, tetapi rawan dipengaruhi.
- Remaja. Pendapat remaja biasanya berbobot lebih besar, terutama pada soal tempat tinggal dan sekolah. Bagi umat Islam, KHI membuka pilihan bagi anak yang sudah mumayyiz.
- Anak dengan kebutuhan khusus. Pendengaran perlu disesuaikan, misalnya dengan juru bahasa isyarat atau pendamping. Baca hak asuh anak berkebutuhan khusus setelah cerai.
Orang tua dapat membantu dengan menyiapkan anak secara emosional, bukan dengan menyiapkan "naskah".
Setelah putusan: menjaga hubungan
Mendengar anak tidak berhenti di ruang sidang. Putusan sering mengatur jadwal bertemu dan nafkah. Orang tua yang taat akan lebih mudah mempertahankan kepercayaan anak. Bila salah satu orang tua menghalangi pertemuan, pengadilan dapat dimintai bantuan. Pelajari hak kunjung anak setelah cerai dan hak anak bertemu orang tua tanpa hak asuh.
Mendampingi anak dari sudut pandang psikologis
Aspek hukum hanyalah satu sisi. Anak yang menghadapi perceraian orang tua biasanya mengalami campuran rasa: sedih, marah, cemas, bahkan bersalah. Beberapa praktik yang membantu:
- Jelaskan dengan jujur dan sederhana. Gunakan kalimat pendek, sesuai usia. Hindari rincian konflik orang dewasa.
- Pertahankan rutinitas. Jam makan, sekolah, dan tidur yang stabil memberi rasa aman.
- Dengarkan tanpa menghakimi. Bila anak menyampaikan keinginan, jangan menanggapi dengan marah atau tersinggung.
- Jangan menjadikan anak penghubung pesan. Orang tua perlu berkomunikasi langsung, atau lewat sarana netral.
- Ajak anak berbicara dengan orang dewasa tepercaya, seperti guru, konselor, atau psikolog, bila ia kesulitan berbicara kepada orang tua.
- Hormati perasaan anak terhadap kedua orang tua. Anak berhak mencintai keduanya.
Pengadilan agama dan pengadilan negeri di sejumlah daerah menyediakan mediator atau konselor, dan dinas sosial dapat membantu menghubungkan dengan psikolog. Bantuan ini bukan tanda kegagalan, melainkan investasi bagi kesehatan jiwa anak.
Kapan sebaiknya anak tidak didengar langsung
Meskipun anak berhak didengar, ada keadaan ketika pendengaran langsung tidak dianjurkan. Misalnya bila anak sangat kecil, bila anak mengalami trauma berat, bila pendengaran akan memaksa anak berhadapan dengan pelaku kekerasan, atau bila anak jelas menolak. Dalam keadaan ini, hakim dapat mengandalkan laporan ahli, hasil pengamatan, atau bukti lain. Kewajiban menghormati hak anak tidak berarti memaksa anak berbicara. Anak juga berhak diam. Prinsipnya, jalur pendengaran harus sesuai kemampuan dan keamanan anak, bukan kebutuhan orang dewasa memenangkan perkara.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah anak wajib hadir di pengadilan? Tidak. Kehadiran anak tidak wajib dan hakim biasanya menghindarinya bila tidak perlu. Pendapat dapat disampaikan lewat pendamping atau pekerja sosial.
Apakah anak berumur 12 tahun boleh menentukan sendiri? Bagi umat Islam, KHI membuka kesempatan memilih bagi anak yang sudah mumayyiz, tetapi hakim tetap menimbang kepentingan terbaik anak. Pilihan anak bukan perintah.
Apakah orang tua boleh mengajak anak ke sidang? Sebaiknya tidak, kecuali diminta pengadilan. Sidang perceraian dapat menimbulkan tekanan bagi anak.
Bagaimana bila anak ingin tinggal dengan orang tua yang kurang mampu? Hakim menilai kemampuan, tetapi kemampuan ekonomi bukan satu-satunya ukuran. Nafkah dapat dibebankan kepada pihak lain, dan pendapat anak tetap dipertimbangkan.
Ringkasan
- Anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya menurut Konvensi Hak Anak dan UU Perlindungan Anak.
- Pendapat anak adalah salah satu pertimbangan hakim, bukan keputusan akhir.
- Pendengaran sebaiknya aman, tertutup, dan didampingi, bukan di depan orang tua yang bertikai.
- Jangan melatih atau menekan anak.
- Setelah putusan, jaga komunikasi dan hubungan anak dengan kedua orang tua.
- Bila keadaan berubah, ada jalur untuk mengajukan perubahan.
Artikel ini informasi umum untuk edukasi, bukan nasihat hukum untuk perkara tertentu. Setiap kasus punya fakta dan dokumen yang berbeda, sehingga sebaiknya dikonsultasikan dengan advokat.
- Basis data peraturan BPK — peraturan.bpk.go.id
- Komisi Perlindungan Anak Indonesia — www.kpai.go.id
Informasi per Oktober 2026. Peraturan dapat berubah; cek teks resmi di peraturan.go.id atau situs instansi terkait.
Dasar hukum
- UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
- UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
- UU No. 3 Tahun 2026 tentang Pelindungan Saksi dan Korban
Baca juga
- Hak Asuh Anak Setelah Perceraian: Siapa yang Berhak dan Bagaimana Diputuskan
- Hak asuh: pertanyaan yang diajukan, bukan tebakan pemenang
- Hak Bertemu Anak bagi Orang Tua yang Tidak Mengasuh dan Pengasuhan Bersama
Ada masukan atau pendapat lain? Kirim lewat WhatsApp atau telepon 0813-3040-8000.