Hukum Waris

Aul dan Radd dalam Pembagian Waris Islam: Saat Jumlah Bagian Tidak Pas dengan Harta

Diperbarui

Isi artikel
    ALUR SINGKATMenghadapi bagian yang tidak pas1Tulis seluruh ahliwaris dan pecahanbagiannya2Samakan penyebutpecahan3Jumlahkan pembilangnya4Jika lebih daripenyebut: aul5Jika kurang dan takada penerima sisa:radd
    Ilustrasi edukatif, dibuat khusus untuk artikel ini.

    Apa itu aul dan radd dan kapan terjadi

    Dalam hukum waris Islam, sebagian ahli waris menerima bagian dengan pecahan yang sudah ditentukan, misalnya setengah, seperempat, atau seperenam. Mereka disebut dzawil furud. Setelah semua bagian ditentukan, kadang jumlahnya tidak persis satu keseluruhan harta.

    Ada dua kemungkinan.

    • Aul: jumlah bagian lebih besar daripada keseluruhan harta. Contohnya jika semua pecahan dijumlahkan menjadi 27 dari 24. Harta tidak cukup bila bagian dibayar penuh.
    • Radd: jumlah bagian lebih kecil daripada keseluruhan harta, dan tidak ada ahli waris yang menerima sisa (asabah). Ada harta yang belum terbagi.

    Keduanya adalah cara mengembalikan perhitungan agar tepat satu. Kompilasi Hukum Islam (KHI), yang ditetapkan lewat Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1991, memuat kedua cara itu. Pasal 192 KHI mengatur aul, yaitu ketika pembilang lebih besar daripada penyebut maka penyebut dinaikkan mengikuti pembilang. Pasal 193 KHI mengatur radd, yaitu ketika pembilang lebih kecil daripada penyebut dan tidak ada ahli waris penerima sisa, sisa dibagi berimbang di antara para ahli waris tersebut.

    Bagi orang awam, istilah ini terdengar teknis. Namun kapan pun keluarga Muslim membagi harta dengan banyak ahli waris, kemungkinan bertemu aul atau radd cukup besar. Karena itu pemahaman dasar membantu Anda memeriksa hitungan notaris atau pengadilan agama.

    Mengapa sampai terjadi

    Pecahan dalam KHI ditetapkan berdasarkan hubungan masing-masing ahli waris. Pecahan itu tidak menyesuaikan diri dengan siapa saja yang kebetulan hidup. Karena kombinasi ahli waris berbeda dari keluarga ke keluarga, jumlahnya kadang pas, kadang berlebih, kadang kurang.

    Aul sering muncul bila ada banyak penerima dengan bagian besar, misalnya dua anak perempuan yang bersama mendapat dua pertiga, ditambah pasangan, ayah, dan ibu. Radd sering muncul bila ahli warisnya sedikit dan semuanya penerima pecahan, misalnya hanya ibu, seorang anak perempuan, dan pasangan, tanpa anak laki-laki, ayah, atau saudara yang bisa menerima sisa.

    Pelajari dulu bagian setiap orang melalui artikel bagian waris ibu dan ayah pewaris muslim dan hak waris suami dan istri yang ditinggal mati.

    Kalkulator, gantungan kunci, dan model rumah di atas meja
    Foto oleh Jakub Żerdzicki di Unsplash

    Cara kerja aul dengan contoh sederhana

    Prinsip aul: bila total pecahan lebih dari satu, semua orang menanggung kekurangan secara berimbang. Penyebut dinaikkan sehingga pecahan-pecahan itu menjadi bagian dari keseluruhan yang baru.

    Contoh: Seorang suami wafat meninggalkan istri, dua anak perempuan, ayah, dan ibu. Menurut KHI, istri mendapat seperdelapan karena ada anak, dua anak perempuan bersama mendapat dua pertiga, ayah seperenam, dan ibu seperenam. Bila disamakan penyebutnya menjadi 24, maka istri 3/24, dua anak perempuan 16/24, ayah 4/24, ibu 4/24. Jumlahnya 27/24, yaitu lebih dari satu. Dengan aul, penyebut dinaikkan menjadi 27. Istri menerima 3/27, dua anak perempuan 16/27, ayah 4/27, dan ibu 4/27. Kisah ini fiktif, tetapi hitungannya mengikuti contoh yang lazim dalam literatur hukum waris Islam.

    Jika hartanya 270 juta rupiah (angka fiktif), maka satu bagian bernilai 10 juta. Istri menerima 30 juta, dua anak perempuan bersama menerima 160 juta (masing-masing 80 juta), ayah 40 juta, dan ibu 40 juta. Jumlahnya 270 juta, tepat sama dengan harta.

    Cara kerja radd dengan contoh sederhana

    Prinsip radd: bila ada kelebihan harta yang tidak punya penerima, kelebihan itu dikembalikan kepada para ahli waris yang ada, sesuai perbandingan bagian mereka.

    Contoh: Seorang suami wafat meninggalkan istri, seorang anak perempuan, dan ibu. Istri mendapat seperdelapan (3/24), anak perempuan setengah (12/24), dan ibu seperenam (4/24). Jumlahnya 19/24, jadi tersisa 5/24. Tidak ada ahli waris penerima sisa. Dengan radd, sisa dibagi berimbang menurut perbandingan 3 : 12 : 4. Hasil akhirnya: istri 3/19, anak perempuan 12/19, dan ibu 4/19 dari harta. Contoh ini mengikutkan semua penerima pecahan dalam pengembalian sisa. Kisah ini fiktif.

    Pada praktik waris Islam, ada perbedaan pandangan antar mazhab, terutama tentang apakah pasangan ikut menerima radd. KHI menyebut sisa dibagi berimbang di antara ahli waris yang ada tanpa memerinci. Karena itu pembagian yang rinci sebaiknya diperiksa hakim pengadilan agama atau penasihat hukum.

    Langkah praktis menghitung sendiri

    1. Tulis daftar ahli waris yang hidup saat pewaris wafat dan bagi menjadi dua kelompok: penerima pecahan dan penerima sisa.
    2. Pisahkan harta bersih. Kurangi harta bersama, utang, dan wasiat, seperti dibahas pada pisahkan harta waris dari harta lain.
    3. Tentukan pecahan masing-masing berdasarkan KHI.
    4. Samakan penyebut semua pecahan. Gunakan kelipatan persekutuan terkecil.
    5. Jumlahkan pembilang. Bandingkan dengan penyebut.
    6. Bila pembilang sama dengan penyebut: pas, tidak perlu aul atau radd.
    7. Bila pembilang lebih besar: lakukan aul, naikkan penyebut hingga sama dengan jumlah pembilang.
    8. Bila pembilang lebih kecil dan ada penerima sisa: sisa diberikan kepada penerima sisa, tidak perlu radd.
    9. Bila pembilang lebih kecil dan tidak ada penerima sisa: lakukan radd.
    10. Konversi ke rupiah dan tulis dalam daftar pembagian untuk disetujui bersama.

    Banyak keluarga cukup memakai kalkulator atau lembar kerja sederhana. Yang paling penting adalah ketelitian pada langkah daftar ahli waris, karena satu nama yang terlewat mengubah seluruh hitungan.

    Perubahan aturan yang perlu Anda ketahui

    Ketentuan aul dan radd dalam KHI adalah aturan inti yang relatif stabil sejak 1991. Tidak ada perubahan besar pada rumus. Hal yang berkembang adalah praktik pengadilan.

    Pertama, hakim pengadilan agama semakin sering menyarankan musyawarah dan perdamaian sebelum menghitung, karena angka aul atau radd yang kaku dapat terasa tidak adil bagi keluarga tertentu.

    Kedua, aspek yang mengelilingi pembagian, seperti pencatatan peralihan hak atas tanah, diatur oleh peraturan pertanahan yang diperbarui. Jangan menganggap pembagian di atas kertas otomatis diakui kantor pertanahan.

    Ketiga, hukum pidana dan acara pidana yang baru berlaku sejak 2 Januari 2026 tidak mengubah hitungan waris, namun berlaku bila ada pemalsuan dokumen atau penggelapan harta waris. Baca ahli waris merahasiakan harta pewaris.

    Kesalahan umum

    KesalahanAkibatnyaCara menghindari
    Membayar bagian penuh tanpa memeriksa total pecahanAhli waris terakhir kekuranganJumlahkan dulu semua pecahan
    Menganggap radd selalu terjadi bila harta bersisaAda penerima sisa yang terlewatPeriksa dahulu ada asabah atau tidak
    Lupa menyertakan pasangan dalam hitunganSeluruh angka salahSelalu masukkan pasangan
    Menghitung dari harta kotorHasil melebihi kemampuan hartaKurangi harta bersama, utang, wasiat
    Memakai contoh keluarga lain apa adanyaKombinasi berbedaHitung berdasarkan daftar ahli waris sendiri
    Peringatan

    Rumus dalam artikel ini hanya gambaran umum. Pembagian sebenarnya bergantung pada daftar ahli waris yang lengkap dan sah. Jangan membagi atau menjual aset hanya berdasarkan hitungan sendiri tanpa memeriksa ke pengadilan agama atau penasihat hukum.

    Tips

    Gunakan satuan pecahan yang sama (misalnya per 24 atau per 12) saat menghitung. Setelah itu baru ubah ke rupiah. Menghitung dalam persen sering menimbulkan pembulatan yang berbeda antar anggota keluarga.

    Contoh: Tiga bersaudara bersepakat menghitung warisan orang tua mereka memakai tabel di kertas. Satu orang menggunakan pecahan, satu menggunakan persen, dan satu menggunakan kalkulator ponsel. Hasil mereka selisih sedikit karena pembulatan. Mereka kemudian sepakat memakai satuan bagian tetap dan membuat tabel tunggal yang ditandatangani semua. Kisah ini fiktif.

    Bagaimana dengan perdamaian dan hibah

    KHI membuka ruang agar ahli waris berdamai dalam pembagian, asalkan setiap ahli waris mengetahui bagiannya terlebih dahulu. Dengan cara ini, ahli waris yang bersedia dapat melepas sebagian bagian tanpa melanggar hukum, misalnya demi anggota keluarga yang lebih membutuhkan. Syaratnya sukarela dan tertulis.

    Ahli waris yang masih di bawah umur tidak bisa melepas haknya begitu saja. Bila ada anak di bawah umur, tindakan atas hartanya perlu wali dan kadang izin pengadilan. Ulasannya ada pada ahli waris anak di bawah umur, wali, dan penetapan pengadilan.

    Contoh pemeriksaan cepat sebelum ke pengadilan atau notaris

    Sebelum membawa hitungan ke notaris, lakukan pemeriksaan cepat. Tanyakan tiga hal. Apakah ada ahli waris yang sering terlupakan, seperti pasangan kedua atau anak dari pernikahan sebelumnya? Apakah ada anak laki-laki atau ayah yang berhak atas sisa, sehingga radd tidak diperlukan? Apakah jumlah bagian sudah ditulis dengan penyebut yang sama?

    Pemeriksaan ini mencegah dua kesalahan paling umum, yaitu menerapkan radd padahal ada penerima sisa, dan menerapkan aul tanpa menyamakan penyebut. Bila ada keraguan, mintalah pengadilan agama memberi penetapan. Penetapan itu menyatakan siapa ahli waris dan, bila diminta, bagian masing-masing.

    Mengapa hitungan ini tetap penting

    Ada yang berpikir hitungan ini kuno karena sekarang mayoritas keluarga membagi lewat musyawarah. Namun hitungan tetap berguna sebagai titik awal. Dengan mengetahui bagian menurut KHI, keluarga dapat menilai apakah kesepakatan yang ditawarkan wajar atau terlalu merugikan salah satu pihak. Musyawarah tidak menghapus hak, dan seseorang yang tahu haknya lebih mudah berunding dengan tenang. Baca juga musyawarah keluarga untuk pembagian waris yang adil.

    Pertanyaan yang sering diajukan

    Apakah aul membuat ahli waris dirugikan? Dalam aul semua ahli waris penerima pecahan menanggung kekurangan secara berimbang. Tidak ada satu orang pun yang dikorbankan sendirian.

    Apakah radd menguntungkan ahli waris tertentu saja? Radd menambah bagian semua penerima pecahan yang berhak atas pengembalian, sesuai perbandingan bagian mereka. Namun beda mazhab bisa berbeda pandangan terhadap pasangan, sehingga hitungan sebaiknya diperiksa.

    Apakah hakim wajib memakai aul dan radd? KHI memuatnya sebagai aturan, jadi hakim pengadilan agama menjadikannya pedoman. Namun pada kasus tertentu para pihak dapat memilih perdamaian dengan pembagian yang berbeda, selama sah dan sukarela.

    Apakah aul dan radd berlaku untuk non-Muslim? Tidak. Keduanya konsep hukum waris Islam. Untuk non-Muslim, ketentuan waris perdata atau adat yang berlaku. Lihat waris perdata barat, siapa yang berlaku.

    Ringkasan

    • Aul terjadi bila jumlah pecahan bagian melebihi keseluruhan harta. Penyebut dinaikkan sehingga semua penerima menanggung kekurangan berimbang.
    • Radd terjadi bila jumlah pecahan kurang dari keseluruhan dan tidak ada penerima sisa. Sisa dibagi berimbang kepada ahli waris yang ada.
    • KHI mengaturnya dalam Pasal 192 (aul) dan Pasal 193 (radd).
    • Tulis daftar ahli waris lengkap sebelum menghitung.
    • Gunakan satuan pecahan yang sama dan periksa hasilnya ke pengadilan agama atau penasihat hukum.
    📌 Catatan

    Artikel ini informasi umum untuk edukasi, bukan nasihat hukum untuk perkara tertentu. Setiap kasus punya fakta dan dokumen yang berbeda, sehingga sebaiknya dikonsultasikan dengan advokat.

    📚 Sumber Rujukan

    Informasi per Oktober 2026. Peraturan dapat berubah; cek teks resmi di peraturan.go.id atau situs instansi terkait.

    Dasar hukum

    Baca juga

    WhatsApp