Beranda · Direktori · Waris dan Hibah

Waris dan Hibah

Wasiat: yang dicek sebelum dilaksanakan

✏️ Diperbarui 10 Oktober 2026 · Tim Redaksi InfoHukum

Wasiat sering diperlakukan seperti perintah yang pasti jalan. Yang dicek lebih dulu adalah bentuknya, isinya, dan apakah ia menabrak batas hukum yang berlaku bagi pewaris.

Wasiat: yang dicek sebelum dilaksanakan
Photo by Melinda Gimpel on Unsplash
ARTIKELWasiat: yang dicek sebelumdilaksanakan
Ilustrasi edukatif, dibuat khusus untuk artikel ini.
Catatan edukatif, Oktober 2026. Bukan nasihat untuk berkas, angka, atau nama pihak tertentu. Peraturan dan tenggat dibaca dari teks resmi dan dari surat yang Anda pegang.

Apa itu wasiat

Wasiat adalah pesan terakhir tentang harta yang baru berlaku setelah pembuatnya meninggal dunia. KUH Perdata mengatur wasiat dalam Pasal 875. Dalam hukum Islam, KHI juga mengatur wasiat dalam Pasal 194 sampai Pasal 209. Pembuat wasiat tetap bisa mengubah atau mencabutnya selama masih hidup.

Batas yang perlu diketahui

Bagi keluarga muslim, wasiat pada umumnya dibatasi paling banyak sepertiga dari harta, kecuali disetujui ahli waris. Dalam KUH Perdata, ada bagian mutlak atau legitime portie yang dilindungi bagi ahli waris tertentu, sehingga wasiat tidak boleh mengambil seluruh bagian itu, sebagaimana diatur Pasal 913. Wasiat yang terlalu besar dapat digugat.

Bentuk dan saksi

Ada wasiat yang dibuat di hadapan notaris dan ada yang berbentuk lain. Menyimpan foto surat tanpa tahu aslinya lemah jika keluarga lain membantah. Tanyakan di mana aslinya disimpan, kapan dibuat, dan siapa saksinya, karena hal ini menentukan kekuatan pembuktian.

Contoh

Contoh: Pak Tomo menulis surat wasiat yang menyerahkan seluruh tanahnya kepada salah satu anaknya, sementara anak lain tidak menerima apa pun. Jika ahli waris lain merasa dirugikan dan tidak ada persetujuan, bagian yang melampaui batas dapat dipersoalkan.

Hal yang sering keliru

Mengapa wasiat sering dipersoalkan

Wasiat sering dianggap sebagai bentuk keinginan terakhir dari pewaris. Namun, bagi keluarga yang ditinggalkan, wasiat bisa terasa mengejutkan, terutama jika isinya tidak sesuai harapan. Ketika ada anggota keluarga yang merasa tidak adil, perdebatan tentang keabsahan dan batas wasiat sering muncul. Karena itu, penting memahami apa yang boleh dan tidak boleh diwasiatkan sejak awal.

Pertanyaan yang perlu dijawab

Jika jawabannya belum jelas, sebaiknya dokumen dicek oleh penasihat hukum sebelum dilaksanakan.

Wasiat dan kesepakatan keluarga

Dalam banyak kasus, persoalan wasiat dapat diselesaikan dengan musyawarah. Ahli waris yang sepakat dapat memberikan persetujuan atas bagian yang melebihi batas. Persetujuan ini sebaiknya dibuat tertulis dan ditandatangani, karena membantu mencegah perselisihan baru di kemudian hari.

Contoh: Pak Joko telah menulis wasiat yang menyerahkan sebagian besar tanahnya kepada salah satu anak. Saudara-saudaranya awalnya keberatan. Setelah musyawarah, mereka sepakat menerima pembagian yang dituangkan dalam surat persetujuan bersama, sehingga pelaksanaan wasiat tidak perlu diperdebatkan lagi.

Setiap kasus memiliki keadaannya sendiri. Rincian batas, bentuk, dan prosedur sebaiknya selalu dicocokkan dengan sumber hukum yang berlaku.

Menyimpan wasiat dengan aman

Wasiat yang disimpan dengan baik lebih sulit disangkal. Simpan aslinya di tempat yang aman, beri tahu pihak yang dipercaya di mana letaknya, dan jangan menyimpan satu-satunya salinan di tangan orang yang kepentingannya bisa terpengaruh. Jika wasiat dibuat di hadapan notaris, catat juga nomor akta dan nama notarisnya agar mudah ditelusuri.

Pembuat wasiat juga dapat menuliskan alasan singkat atas pembagian yang tidak merata. Alasan yang jelas sering membantu mengurangi kesalahpahaman, meskipun tidak otomatis menghapus batas yang berlaku.

Yang tidak diputuskan halaman ini. Halaman ini tidak menyatakan suatu wasiat sah atau batal.

Dasar hukum

Dalam kategori yang sama

Yang sudah tayang lebih lengkap

Ada masukan atau pendapat lain? Kirim lewat WhatsApp atau email [email protected].