Hukum Keluarga

Memilih Ikut Ayah atau Ibu: Seberapa Penting Pendapat Anak?

Terbit 5 menit bacaTim Redaksi InfoHukum

Anak berhak menyampaikan pendapat saat orang tuanya bercerai. Pahami seberapa jauh hakim mendengarnya dan bagaimana orang tua menyikapinya dengan bijak.

Isi artikel
    ⚡ Ringkas 30 detik
    • Anak berhak menyatakan pendapat dan didengar dalam perkara yang menyangkut dirinya.
    • Menurut KHI, anak yang sudah mumayyiz (12 tahun ke atas) diberi kesempatan memilih ikut ayah atau ibu.
    • Pendapat anak penting, tetapi bukan satu-satunya penentu; hakim menilai kepentingan terbaik anak.
    • Orang tua sebaiknya tidak menekan atau mempengaruhi anak.
    Bagaimana pendapat anak didengar1Anak berusiacukup matang2Hakim ataupendamping3Pendapat dicatatdan dinilai4Dipakai dalamputusan
    Cara pendengaran dapat berbeda antar pengadilan.

    Hak anak untuk didengar

    Undang-Undang Perlindungan Anak menyatakan setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya sesuai tingkat kecerdasan dan usianya. Indonesia juga telah mengesahkan Konvensi Hak Anak, yang menempatkan pendapat anak sebagai hal yang harus dihargai.

    Dalam perkara perceraian, hak ini tidak berarti anak harus memutuskan sendiri. Anak berhak menyampaikan perasaannya, sedangkan keputusan tetap berada pada hakim.

    Hal ini penting karena anak sering menjadi pihak yang paling terdampak perpisahan orang tua, tetapi paling jarang ditanya.

    Aturan dalam hukum Islam Indonesia

    Kompilasi Hukum Islam menyebut anak yang belum mumayyiz berada dalam pemeliharaan ibunya. Ketika anak sudah mumayyiz, yaitu berumur 12 tahun, ia diberi kesempatan memilih antara ayah dan ibu sebagai pemegang hak pemeliharaan.

    Pilihan anak menjadi bahan pertimbangan penting, tetapi hakim tetap dapat menilai apakah pilihan itu benar-benar bebas dan sesuai kepentingan anak.

    Jika pemegang hak asuh dinilai tidak mampu menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak, pengadilan dapat memindahkan hak itu kepada pihak lain.

    Pendapat anak: yang benar dan yang keliruYang benarAnak berhak didengarPendapat jadi bahan pertimbanganHakim menilai kepentingan anakPilihan harus bebas tekananYang keliruAnak otomatis memutuskan sendiriOrang tua boleh membujuk anakPilihan anak mengikat hakimAnak wajib hadir di sidang
    Ringkasan agar tidak salah paham.

    Bagi pasangan non-Islam dan anak yang lebih muda

    Bagi pasangan non-Islam, tidak ada patokan umur 12 tahun yang sama, tetapi hakim tetap dapat mendengar anak sesuai usianya. Anak remaja biasanya diberi bobot lebih besar dibanding anak yang masih kecil.

    Pada anak yang masih kecil, hakim lebih banyak bertumpu pada pengamatan terhadap kebutuhan dasar dan kedekatan dengan orang tua, bukan pada keinginan anak.

    Bagaimana hakim mendengar anak

    Cara mendengar anak berbeda-beda. Ada hakim yang bertanya langsung dalam ruang yang ramah, ada yang meminta pendapat psikolog atau pekerja sosial, dan ada yang memakai laporan hasil penelitian kemasyarakatan.

    Anak tidak perlu hadir bila itu membuatnya tertekan. Orang tua dapat meminta hakim memperhatikan kenyamanan anak.

    Contoh: Dina (fiktif), 13 tahun, menyampaikan kepada hakim bahwa ia merasa nyaman tinggal dengan ibunya yang menemaninya belajar. Hakim menimbang pilihan itu bersama keadaan ayah dan ibu, lalu memutus berdasarkan kepentingan terbaik Dina.

    Sikap orang tua yang bijak

    Hindari membujuk, menjanjikan hadiah, atau menjelekkan pihak lain di depan anak. Pengaruh seperti itu dapat terlihat dan merugikan Anda di mata hakim.

    Berikan anak ruang untuk bercerita kepada orang dewasa netral, seperti guru, psikolog, atau konselor. Katakan bahwa keputusan orang tua bercerai bukan kesalahan anak dan ia tetap dicintai kedua orang tuanya.

    Hal yang perlu diperhatikan orang tuaBeri tahu anak dengan lembutJangan menjanjikan hadiahJangan menjelekkan pihak lainLibatkan konselor bila perluHormati jadwal sekolahCatat kondisi anak
    Fokus pada kenyamanan dan keselamatan anak.

    Pertanyaan yang sering muncul

    Apakah anak bisa berubah pikiran? Bisa. Jika keadaan berubah, pihak yang berkepentingan dapat meminta pengadilan menilai kembali, dengan alasan kuat.

    Apakah anak bisa dipaksa memilih? Tidak seharusnya. Hakim akan menilai apakah pilihan itu bebas dari tekanan.

    Apakah pilihan anak mengubah kewajiban nafkah? Tidak. Kewajiban biaya tetap mengikuti ketentuan dan putusan.

    Dampak psikologis bagi anak

    Perceraian dapat menimbulkan rasa bersalah, bingung, atau takut pada anak. Memaksa anak memilih secara terbuka di depan kedua orang tua dapat menambah beban. Karena itu, banyak ahli menyarankan agar pendapat anak digali dengan cara lembut dan tidak menghakimi.

    Orang tua dapat memanfaatkan layanan konseling sekolah atau psikolog anak. Hasil asesmen profesional juga dapat membantu hakim memahami kebutuhan anak tanpa membuat anak harus berhadapan langsung di ruang sidang.

    Peran kesepakatan orang tua

    Jika kedua orang tua bisa bersepakat tentang tempat tinggal anak, pengadilan umumnya menghargai kesepakatan itu selama tidak merugikan anak. Kesepakatan dapat memuat jadwal bertemu, libur sekolah, dan pembagian biaya.

    Dengan kesepakatan, anak tidak perlu merasa menjadi penentu dalam konflik orang tuanya, dan suasana sidang pun lebih tenang.

    Hal yang sering keliru

    • Mengira anak 12 tahun otomatis boleh menentukan sendiri. Hakim tetap menilai kepentingan terbaik anak.
    • Mengira anak harus selalu hadir di sidang. Kehadiran tidak boleh membebani anak.
    • Menekan anak agar memilih salah satu orang tua. Pengaruh seperti itu dapat dinilai buruk.
    📌 Catatan

    Artikel ini bersifat edukatif dan bukan nasihat hukum. Konsultasikan fakta perkara Anda dengan advokat atau lembaga bantuan hukum.

    📚 Sumber Rujukan

    Informasi per 16 Oktober 2026. Artikel ini bersifat edukatif dan bukan nasihat hukum untuk perkara tertentu.

    Dasar hukum

    • UU 23/2002 Pasal 10
    • KHI Pasal 105 huruf b
    • KHI Pasal 156 huruf b
    • Keppres 36/1990

    Dalam kategori yang sama

    WhatsApp