Hukum Digital

Enkripsi Data untuk Instansi dan Usaha: Saran Praktisi dan Praktik Dasar

Terbit 4 menit bacaTim Redaksi InfoHukum

Praktisi mengusulkan enkripsi sebagai lapis pertahanan data nasional. Penjelasan enkripsi saat disimpan dan dikirim, pengelolaan kunci, dan kaitannya dengan UU SDI secara hati-hati.

Isi artikel
    ⚡ Ringkas 30 detik
    • Menurut Bisnis.com, praktisi mengusulkan enkripsi, zero trust, dan segregasi jaringan; ini saran, bukan pasal UU SDI.
    • Enkripsi menyandikan data sehingga tidak terbaca tanpa kunci yang benar.
    • Ada dua keadaan utama: data saat disimpan dan data saat dikirim; keduanya perlu dilindungi.
    • Pengelolaan kunci sama pentingnya dengan enkripsi itu sendiri.

    Apa yang diusulkan dan oleh siapa

    Menurut Bisnis.com pada 6 Oktober 2026, praktisi ICSF mengusulkan enkripsi bersama zero trust dan segregasi jaringan sebagai bagian pertahanan siber. Usulan ini muncul ketika ia menilai bahwa ancaman pidana 15 tahun bukan pertahanan siber utama.

    Usulan tersebut adalah pendapat praktisi, bukan rumusan UU Satu Data Indonesia (SDI). Namun UU SDI menurut pemberitaan menyebut infrastruktur kriptografi sebagai bagian keamanan, sehingga topik enkripsi tetap berkaitan erat.

    Penting dibedakan antara pernyataan praktisi dan kewajiban hukum. Selama belum ada standar resmi yang menyebut jenis enkripsi tertentu, pembaca tidak dapat mengklaim bahwa suatu sistem wajib memakai teknik tertentu menurut UU SDI.

    Melindungi data dengan enkripsi1PilahData palingsensitif2EnkripsiSaat disimpan dandikirim3Kelola kunciPisah dancadangkan4PantauCatat akses5TinjauGanti kunciberkala
    Alur praktis umum.

    Arti enkripsi dalam bahasa sederhana

    Enkripsi mengubah data menjadi susunan yang tidak terbaca memakai kunci. Tanpa kunci yang benar, pencuri hanya mendapat teks acak yang tidak berguna. Dengan kunci, data dibuka kembali seperti semula.

    Anggap saja seperti kotak berkunci. Meskipun kotaknya dicuri, isinya tetap aman selama kunci tidak ikut hilang. Karena itu, enkripsi sangat membantu mengurangi dampak kebocoran, terutama bila yang bocor adalah data pribadi warga.

    Penyerang kerap mengincar data yang tidak terenkripsi karena paling mudah dipakai. Data pelanggan, daftar penerima bantuan, dan dokumen identitas termasuk sasaran bernilai. Mengenkripsinya mengubah data curian menjadi sampah bagi pelaku.

    Dua keadaan data

    Data dapat berada pada dua keadaan yang perlu dilindungi. Pertama, saat disimpan di server, komputer, atau cadangan. Kedua, saat dikirim lewat jaringan, misalnya antara aplikasi dan server atau antar instansi.

    Banyak organisasi melindungi salah satunya saja. Padahal pencuri dapat menyerang di mana pun yang lemah. Perlindungan yang baik mencakup keduanya, ditambah perlindungan pada perangkat yang dibawa pegawai, seperti laptop dan telepon seluler.

    Sambungan terenkripsi biasanya ditandai ikon gembok pada peramban. Tetapi banyak sistem internal masih mengirim data tanpa perlindungan karena dianggap berada di jaringan tertutup. Anggapan ini berbahaya bila ada penyusup di dalam jaringan.

    • Saat disimpan: enkripsi basis data, berkas, dan cadangan.
    • Saat dikirim: sambungan terenkripsi antar sistem dan ke pengguna.
    • Pada perangkat: enkripsi penyimpanan laptop dan ponsel kerja.
    Disimpan dan dikirimData disimpanBasis data dan berkasCadanganLaptop dan ponsel kerjaData dikirimAntar aplikasi dan serverAntar instansiKe pengguna layanan
    Dua-duanya perlu dilindungi.

    Kunci adalah titik paling rawan

    Enkripsi yang kuat bergantung pada kunci yang aman. Kunci yang ditulis di berkas biasa, dikirim lewat pesan, atau dipegang satu orang saja menjadi celah. Karena itu pengelolaan kunci dirancang tersendiri: pembuatan, penyimpanan, penggantian, pencadangan, dan pencabutan.

    Pemisahan tugas membantu. Orang yang mengelola kunci sebaiknya berbeda dari orang yang mengelola data. Selain itu, kunci perlu dicadangkan di tempat terpisah, sebab bila kunci hilang, data terenkripsi tidak dapat dibuka lagi oleh siapa pun.

    Perhatikan pula keawetan. Berkas arsip yang disimpan bertahun-tahun perlu rencana agar tetap dapat dibuka. Kunci lama yang hilang atau perangkat lunak yang tidak lagi didukung dapat membuat arsip penting tidak terbaca selamanya.

    Enkripsi dan aturan data pribadi

    Menurut pengetahuan umum, UU Pelindungan Data Pribadi mewajibkan pengendali menjaga keamanan data pribadi, dan enkripsi termasuk langkah teknis yang lazim. Penulis tidak menyebut pasal tertentu karena perlu diperiksa pada naskah resmi.

    Bagi instansi, enkripsi membantu dua hal sekaligus: mengurangi risiko kebocoran, dan memudahkan membuktikan upaya keamanan ketika diaudit. Walau begitu, enkripsi tidak menggugurkan kewajiban melapor bila insiden terjadi.

    Pelaku usaha yang bekerja sama dengan instansi sebaiknya menyiapkan kebijakan enkripsi tertulis. Dokumen singkat berisi data apa yang dienkripsi, bagaimana, dan siapa penanggung jawabnya akan mempermudah menjawab permintaan klien.

    Keterbatasan enkripsi

    Enkripsi bukan obat segalanya. Jika penyerang memperoleh akun administrator, ia dapat membuka data seperti pengguna sah. Enkripsi juga tidak mencegah ransomware mengunci berkas yang sudah terenkripsi, karena pemeras dapat menambah lapisan sandinya sendiri.

    Karena itu, enkripsi harus dipadukan dengan kontrol akses, pemantauan, dan cadangan. Praktisi menyebut pendekatan berlapis ini sebagai bagian dari pertahanan yang lebih baik daripada mengandalkan satu cara.

    Jangan lupa pelatihan. Pegawai perlu tahu mengapa laptop dienkripsi dan apa yang harus dilakukan bila perangkat hilang. Laporan cepat atas perangkat hilang memungkinkan kunci dicabut dan akses diblokir sebelum disalahgunakan.

    Mulai dari yang paling penting

    Langkah awal yang realistis adalah mendata data paling sensitif dan memastikan data itu dienkripsi saat disimpan dan dikirim. Aktifkan fitur enkripsi yang sudah tersedia pada perangkat dan layanan yang dipakai, sebelum membeli perangkat baru.

    Lalu tetapkan siapa pemegang kunci, di mana kunci dicadangkan, dan kapan kunci diganti. Dokumentasikan semuanya. Dokumen ini akan sangat berguna ketika audit keamanan dilakukan sesuai standar yang kelak ditetapkan.

    Contoh kasus

    Contoh: Sebuah toko daring kecil yang melayani pesanan untuk instansi menyimpan daftar alamat pelanggan di sebuah berkas di laptop pemilik. Laptop itu hilang. Karena penyimpanan laptop sudah dienkripsi dan kata sandinya kuat, daftar itu tidak terbaca pencuri. Pemilik tetap mencatat kejadian dan memeriksa apakah ada kewajiban memberi tahu pihak terkait.

    Kesalahan umum soal kunciKunci disimpan di berkas biasaKunci dibagikan lewat pesanHanya satu orang yang tahuTidak ada cadangan kunciKunci tidak pernah diganti
    Hindari agar enkripsi bermanfaat.

    Hal yang sering keliru

    • Mengira enkripsi berarti data pasti aman dari semua serangan.
    • Mengira enkripsi diwajibkan secara rinci oleh UU SDI; sumber kami hanya menyebut infrastruktur kriptografi.
    • Menyimpan kunci sandi di tempat yang sama dengan data terenkripsi.
    📌 Catatan

    Artikel ini memuat pendapat praktisi menurut Bisnis.com dan penjelasan umum, bukan nasihat hukum. Standar resmi perlu dipastikan dari naskah UU SDI dan aturan turunan.

    📚 Sumber Rujukan

    Informasi per 16 Oktober 2026. Artikel ini bersifat edukatif dan bukan nasihat hukum untuk perkara tertentu.

    Dasar hukum

    • Undang-Undang Satu Data Indonesia (disahkan DPR 6 Oktober 2026; nomor menyusul)
    • Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi

    Dalam kategori yang sama

    WhatsApp