Hukum Digital

Pemasaran Langsung: WhatsApp Blast, SMS Promosi, dan Persetujuan Penerima menurut Prinsip UU PDP

Terbit 4 menit bacaTim Redaksi InfoHukum

Apakah boleh mengirim promosi lewat WhatsApp blast atau SMS? Pahami prinsip UU PDP tentang dasar pemrosesan, persetujuan, hak berhenti menerima, dan cara aman berpromosi bagi usaha.

Video ringkas 20 detik. Teks di layar, tanpa suara.
Isi artikel
    ⚡ Ringkas 30 detik
    • Nomor HP adalah data pribadi, sehingga mengirim promosi ke nomor itu adalah pemrosesan data pribadi.
    • Prinsip umum UU PDP: usaha harus punya dasar yang sah, dan persetujuan penerima adalah dasar yang paling jelas untuk promosi.
    • Pelanggan perlu diberi jalan mudah untuk berhenti menerima pesan promosi.
    • Membeli daftar nomor dari pihak lain berisiko, karena persetujuan asal-usul data sulit dibuktikan.

    Nomor HP sebagai data pribadi

    Nomor telepon yang terkait seseorang dapat mengidentifikasi orang itu. Karena itu mengirim blast ke ribuan nomor berarti memproses ribuan data pribadi.

    Usaha yang memutuskan siapa dikirimi pesan dan untuk apa berperan sebagai pengendali data.

    Pelanggan lama tidak otomatis setuju menerima promosi selamanya. Persetujuan sebaiknya ditinjau berkala, terutama bila pelanggan sudah lama tidak berbelanja. Mengirim pesan kepada nomor yang sudah lama tidak aktif memperbesar risiko salah sasaran.

    Ringkasnya, pemasaran yang menghormati data pelanggan adalah investasi jangka panjang. Dasar yang sah, persetujuan yang tercatat, dan jalan berhenti yang mudah membuat usaha lebih tenang menghadapi aturan yang makin ketat, sekaligus menjaga kepercayaan pelanggan.

    Alur persetujuan promosi1MintaPertanyaanterpisah2CatatWaktu dan cara3KirimSesuai janji4Beri jalankeluarCara berhenti5HapusSetelah menolak
    Alur sederhana bagi usaha kecil.

    Dasar yang sah untuk mengirim promosi

    UU PDP mengenal beberapa dasar pemrosesan, seperti persetujuan, perjanjian, dan kepentingan sah lain. Untuk promosi, persetujuan paling mudah dibuktikan dan paling menghormati penerima. Ini analisis redaksi, bukan aturan khusus tentang blast.

    Nomor yang diberikan untuk mengirim struk belanja tidak otomatis boleh dipakai untuk menawarkan produk lain. Tujuannya berbeda.

    Promosi yang menyasar kelompok tertentu, misalnya berdasarkan kondisi kesehatan atau keuangan, menyentuh data yang lebih peka. Untuk data semacam itu, tingkat kehati-hatian dan kejelasan persetujuan perlu jauh lebih tinggi.

    Persetujuan yang baik

    Persetujuan sebaiknya jelas, terpisah, dan mudah ditarik. Kotak yang sudah tercentang atau kalimat tersembunyi di syarat panjang lebih sulit dibela.

    Simpan bukti: kapan, lewat apa, dan untuk jenis pesan apa pelanggan setuju. Bukti ini membantu bila pelanggan mempertanyakan.

    Pesan yang menyamar sebagai pesan resmi atau meminta data tambahan lewat tautan dapat dicurigai sebagai penipuan. Usaha yang sah sebaiknya memakai nama jelas dan tidak meminta kata sandi atau kode OTP dalam promosi.

    Persetujuan atau tidakTanpa persetujuanNomor dari daftar beliTidak ada buktiSulit berhentiDengan persetujuanNomor dari pelanggan sendiriBukti tersimpanBerhenti dengan satu balasan
    Dua cara berpromosi.

    Hak berhenti dan menarik persetujuan

    Pelanggan berhak menarik persetujuan dan menolak pemrosesan tertentu menurut prinsip UU PDP. Cantumkan cara berhenti di setiap pesan, misalnya membalas kata tertentu.

    Setelah ada permintaan berhenti, segera hapus nomor itu dari daftar promosi. Pesan yang terus datang akan memicu keluhan.

    Bila penerima mengeluh bahwa nomornya dipakai tanpa izin, tanggapi cepat, jelaskan sumber nomor, dan hapus bila diminta. Tanggapan yang baik mencegah keluhan berkembang menjadi pengaduan resmi.

    Daftar nomor dari pihak lain

    Membeli atau menyewa daftar nomor sangat berisiko. Anda sulit memastikan pemilik nomor pernah setuju menerima promosi dari Anda.

    Menjual atau membeli data pribadi secara melawan hukum juga dapat berujung pidana menurut UU PDP. Pasal yang tepat perlu dicek.

    Pelanggaran terhadap prinsip pelindungan data dapat dikenai sanksi administratif, termasuk denda, menurut pemberitaan tentang PP 33/2026. Besarnya dipengaruhi banyak hal, sehingga cek rincian pada naskah resmi.

    Praktik promosi yang lebih aman

    Beberapa langkah berikut dapat membantu usaha kecil.

    Bagi usaha kecil, godaan terbesar adalah mengirim promosi sebanyak mungkin ke setiap nomor yang dimiliki. Padahal pesan yang tidak diminta cenderung diblokir, dilaporkan sebagai spam, dan merusak reputasi. Daftar kecil berisi orang yang benar-benar setuju biasanya lebih bernilai daripada daftar besar yang dingin.

    Catat jenis persetujuan yang diberikan. Seorang pelanggan mungkin hanya setuju menerima informasi pesanan, bukan diskon. Memisahkan jenis pesan membuat Anda lebih mudah menghormati pilihan pelanggan dan mengurangi risiko dituduh menyalahgunakan nomor mereka.

    • Kumpulkan nomor langsung dari pelanggan dengan persetujuan jelas.
    • Pisahkan daftar promosi dari data transaksi.
    • Batasi frekuensi dan jam kirim.
    • Sebutkan nama usaha di setiap pesan.
    • Sediakan cara berhenti yang cepat.

    Pemasaran lewat media sosial dan pesan pribadi

    Pesan promosi lewat pesan langsung media sosial atau grup juga tunduk pada prinsip yang sama. Menambahkan orang ke grup promosi tanpa izin sering dianggap mengganggu, dan dapat menimbulkan keluhan bahkan pelaporan.

    Bila Anda memakai jasa agensi untuk mengirim pesan, agensi itu dapat menjadi prosesor. Buat perjanjian tertulis yang menegaskan bahwa data hanya dipakai atas perintah Anda dan dimusnahkan setelah kampanye selesai.

    Menurut analisis redaksi, aturan lain di luar UU PDP, misalnya tentang periklanan, perlindungan konsumen, dan telekomunikasi, juga dapat berlaku untuk pesan promosi. Karena sumber yang kami baca tidak merinci hal itu, periksa aturan sektor sebelum meluncurkan kampanye besar.

    Bila nomor pelanggan bocor atau dipakai pihak lain untuk menipu, usaha perlu bertindak cepat. Beri tahu pelanggan terdampak, perbaiki celahnya, dan simpan catatan kejadian. Artikel kami tentang spam penawaran dan data bocor dapat membantu pembaca memahami sisi korban.

    Contoh kasus

    Contoh: Sebuah toko kue mengumpulkan nomor pelanggan untuk konfirmasi pesanan. Pemilik ingin mengirim diskon mingguan. Ia menambahkan pertanyaan terpisah di formulir apakah pelanggan bersedia menerima promosi, menyimpan jawabannya, dan memasang pesan berhenti di setiap kiriman. Pelanggan yang tidak setuju hanya menerima konfirmasi pesanan. Hasilnya daftar promosi lebih kecil, tetapi penerimanya benar-benar berminat, dan keluhan hampir tidak ada.

    Isi pesan promosi yang rapiNama usaha pengirimIsi penawaran yang jelasCara berhenti menerimaKontak untuk bertanyaTidak memuat data pribadi orang lain
    Standar sederhana dari redaksi.

    Hal yang sering keliru

    • Mengira nomor yang sudah ada di buku pesanan boleh dipakai untuk blast apa saja.
    • Mengira membeli daftar nomor aman karena penjualnya bilang sah.
    • Mengabaikan permintaan berhenti dari pelanggan.
    📌 Catatan

    Artikel ini analisis redaksi atas prinsip umum UU PDP, bukan nasihat hukum. Aturan periklanan dan telekomunikasi lain juga dapat berlaku dan perlu dicek.

    📚 Sumber Rujukan

    Informasi per 16 Oktober 2026. Artikel ini bersifat edukatif dan bukan nasihat hukum untuk perkara tertentu.

    Dasar hukum

    • Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi
    • Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2026 tentang Pelindungan Data Pribadi (berlaku 16 Januari 2027 menurut pemberitaan)

    Dalam kategori yang sama

    WhatsApp