Hukum Perdata & Litigasi

Contoh Draf Akta Pengakuan Utang Notariil dan Cara Mengisinya

Terbit 8 menit bacaTim Redaksi InfoHukum

Contoh draf akta pengakuan utang notariil: grosse berkekuatan eksekutorial (Pasal 224 HIR), syarat jumlah pasti, jadwal bayar, dan jaminan.

Isi artikel
    ⚡ Ringkas 30 detik
    • Akta pengakuan utang notariil adalah akta notaris yang berisi pengakuan debitor bahwa ia berutang sejumlah uang yang pasti.
    • Grosse aktanya berkepala "DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA" dan menurut Pasal 224 HIR / 258 RBg mempunyai kekuatan seperti putusan hakim.
    • Agar dapat dieksekusi, praktik peradilan mensyaratkan jumlah utang pasti dan kewajiban bayar tidak digantungkan pada syarat lain.
    • Jaminan kebendaan (hak tanggungan, fidusia) tetap harus dibuat dengan akta dan pendaftaran tersendiri.

    Apa itu akta pengakuan utang notariil dan kapan dipakai

    Surat pengakuan utang di bawah tangan sudah cukup untuk membuktikan utang. Namun bila debitor tidak membayar, kreditor tetap harus menggugat ke pengadilan, menunggu putusan berkekuatan hukum tetap, lalu memohon eksekusi. Prosesnya bisa memakan waktu lama.

    Akta pengakuan utang yang dibuat notaris menawarkan jalan lebih pendek. Notaris mengeluarkan grosse akta, yaitu salinan khusus yang di bagian atasnya memuat irah-irah "DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA". HIR dan RBg memberi grosse semacam itu kekuatan yang sama dengan putusan hakim. Bila debitor cidera janji, kreditor dapat langsung memohon eksekusi kepada Ketua Pengadilan Negeri tanpa gugatan biasa.

    Akta ini lazim dipakai untuk pinjaman pribadi bernilai besar, penyelesaian utang dagang, hasil perdamaian, atau restrukturisasi utang antarpengusaha.

    Dasar hukum dalam bahasa sehari-hari

    • Pasal 224 HIR / Pasal 258 RBg. Grosse akta hipotek dan surat utang yang dibuat di hadapan notaris dengan kepala irah-irah tersebut mempunyai kekuatan sama dengan putusan hakim. Bila tidak dipenuhi secara damai, pelaksanaannya dijalankan atas perintah dan di bawah pimpinan Ketua Pengadilan Negeri.
    • UU Jabatan Notaris. Notaris berwenang membuat akta autentik dan mengeluarkan grosse akta kepada pihak yang berhak, yaitu kreditor.
    • KUHPerdata. Pinjam-meminjam uang (Pasal 1754 dan seterusnya), bunga yang harus diperjanjikan tertulis, harta debitor sebagai jaminan umum (Pasal 1131–1132), dan penanggungan oleh penjamin pribadi (Pasal 1820 dan seterusnya).
    • Syarat dalam praktik. Yurisprudensi dan pedoman Mahkamah Agung pada pokoknya menghendaki akta berisi pengakuan utang yang murni: jumlah pasti, kewajiban membayar tegas, dan tidak bercampur dengan perjanjian lain yang menimbulkan perselisihan tentang besarnya utang. Bila tidak, permohonan eksekusi dapat ditolak.

    Isi penting yang wajib ada

    • Identitas debitor dan kreditor, kewenangan mewakili bila badan usaha, dan persetujuan pasangan debitor bila perlu.
    • Asal utang secara singkat, merujuk perjanjian pokok dan bukti penerimaan uang.
    • Pengakuan utang dengan jumlah pasti (angka dan terbilang).
    • Jadwal pembayaran dengan tanggal dan jumlah yang jelas.
    • Peristiwa cidera janji dan akibatnya: seluruh sisa utang jatuh tempo seketika.
    • Hak kreditor memohon eksekusi grosse ke Ketua Pengadilan Negeri.
    • Jaminan dan rujukan ke akta pengikatannya.
    • Kewajiban kreditor menyerahkan surat lunas dan grosse setelah utang lunas.

    Cara mengisi langkah demi langkah

    1. Hitung jumlah utang. Rekonsiliasi semua pembayaran sampai hari ini. Sepakati satu angka pasti.
    2. Pisahkan bunga. Bila ada bunga, tetapkan jumlahnya dalam angka dan masukkan ke jadwal, bukan rumus yang dihitung belakangan.
    3. Tulis asal utang. Cukup rujuk perjanjian pokok dan bukti transfer. Jangan menyalin seluruh isi perjanjian pokok ke akta ini.
    4. Susun jadwal. Isi tabel angsuran di lampiran dan pastikan jumlahnya sama dengan utang yang diakui.
    5. Tentukan jaminan. Bila ada tanah, jadwalkan SKMHT/APHT di PPAT; bila kendaraan atau persediaan, akta fidusia; bila ada penjamin pribadi, akta penanggungan.
    6. Periksa status debitor. Untuk debitor perorangan yang menikah, minta pasangan hadir. Untuk PT, periksa kewenangan Direksi.
    7. Tanda tangan di notaris. Mintalah notaris memberikan grosse pertama kepada kreditor.
    8. Simpan grosse. Grosse adalah dokumen eksekusi. Hilangnya grosse merepotkan.

    Kesalahan yang sering terjadi

    • Jumlah utang tidak pasti. Misalnya "utang pokok ditambah bunga dan denda yang akan dihitung kemudian". Pengadilan dapat menolak eksekusi.
    • Akta dicampur perjanjian kerja sama atau jual beli. Kewajiban bayar menjadi bergantung pada prestasi lain, sehingga akta tidak murni.
    • Mengira akta ini otomatis menjaminkan rumah debitor. Tanpa APHT yang didaftarkan, kreditor tidak punya hak didahulukan atas rumah tersebut.
    • Klausul kreditor otomatis memiliki jaminan. Dilarang oleh hukum jaminan dan batal.
    • Lupa menyerahkan kembali grosse setelah lunas. Debitor berhak atas grosse dan surat lunas agar tidak ditagih dua kali.

    Contoh singkat

    Kerangka berikut hanya ilustrasi; template lengkap memuat enam pasal, tabel angsuran, dan daftar periksa sebelum ke notaris.

    • Akta Pengakuan Utang Nomor [....], di hadapan [notaris].
    • Debitor [nama] mengaku berutang kepada kreditor [nama] sejumlah Rp[....] (terbilang).
    • Utang dibayar dalam [....] angsuran sesuai jadwal; angsuran terakhir [tanggal].
    • Bila terlambat, seluruh sisa utang seketika dapat ditagih dan kreditor dapat memohon eksekusi grosse.
    • Jaminan: [tanah/kendaraan], diikat dengan [APHT/akta fidusia] paling lambat [tanggal].
    • Grosse pertama diberikan kepada kreditor.
    📄 Template lengkap

    Versi Word dan PDF lengkap dengan pilihan rumusan jaminan, tabel angsuran, daftar periksa, dan petunjuk pengisian tersedia di Paket Dokumen InfoHukum (Paket Advokat, Paket Korporat, dan Paket Lengkap). Pembeli dapat mengunduhnya kapan saja dari Pustaka Saya.

    Pertanyaan yang sering diajukan

    Apa bedanya dengan surat pengakuan utang biasa?

    Surat di bawah tangan adalah alat bukti, tetapi tidak dapat langsung dieksekusi. Grosse akta pengakuan utang notariil dapat dimohonkan eksekusi kepada Ketua Pengadilan Negeri seperti putusan, sepanjang memenuhi syarat.

    Bagaimana prosedur eksekusinya?

    Kreditor mengajukan permohonan eksekusi dengan melampirkan grosse. Ketua Pengadilan Negeri memanggil dan menegur debitor (aanmaning) untuk membayar dalam waktu tertentu. Bila tetap tidak membayar, pengadilan dapat menyita dan melelang harta debitor.

    Bisakah debitor melawan eksekusi?

    Bisa, misalnya dengan perlawanan bahwa utang sudah dibayar sebagian atau jumlahnya keliru. Karena itu, jumlah utang yang pasti dan bukti pembayaran yang rapi sangat penting.

    Apakah bunga boleh dimasukkan?

    Boleh bila disepakati tertulis. Untuk menjaga kepastian jumlah, tetapkan bunga sebagai angka tertentu dalam jadwal, bukan rumus terbuka.

    Catatan

    Artikel ini informasi umum, bukan nasihat hukum untuk kasus tertentu. Syarat eksekusi grosse akta banyak dibentuk oleh praktik peradilan dan dapat berbeda penerapannya; mintalah pendapat notaris dan advokat untuk utang bernilai besar. Untuk keadaan khusus, konsultasikan dengan notaris, PPAT, atau advokat, atau gunakan layanan konsultasi InfoHukum.

    📚 Sumber Rujukan

    Informasi per 24 Oktober 2026. Artikel ini bersifat edukatif dan bukan nasihat hukum untuk perkara tertentu.

    Dasar hukum

    • Pasal 224 HIR / Pasal 258 RBg
    • UU 30/2004 jo. UU 2/2014 tentang Jabatan Notaris
    • KUHPerdata Pasal 1131–1132, 1754 dst., 1820 dst.
    • UU 10/2020 tentang Bea Meterai

    Dalam kategori yang sama

    Dapatkan info hukum praktis setiap hari di WhatsApp

    Ikuti Saluran InfoHukum
    WhatsApp