Hukum Digital

Bab Larangan Dipindah ke Bab Pidana: Apa Dampaknya pada UU Satu Data?

Terbit 4 menit bacaTim Redaksi InfoHukum

Menurut pemberitaan, Bab Larangan dalam UU Satu Data dihapus dan dipindah ke Bab Ketentuan Pidana. Pelajari arti perubahan struktur ini bagi pembaca dan pelaku usaha.

Isi artikel
    ⚡ Ringkas 30 detik
    • Menurut pemberitaan, Bab Larangan dalam UU Satu Data Indonesia dihapus dan isinya dipindah ke Bab Ketentuan Pidana.
    • Perubahan ini membuat larangan dan ancamannya dibaca dalam satu bab, yaitu di rangkaian Pasal 129 sampai 135.
    • Isi larangan yang berpindah belum dirinci sumber yang kami baca, jadi tidak boleh diduga-duga.
    • Struktur bab dapat berubah sampai naskah akhir; periksa naskah resmi setelah diundangkan.

    Struktur bab dan mengapa penting

    Undang-undang disusun dalam bab dan pasal. Struktur ini menentukan di mana pembaca mencari aturan tertentu, misalnya definisi, hak, kewajiban, larangan, dan pidana.

    Pemindahan bab bukan sekadar urusan administrasi. Ia dapat memengaruhi cara orang memahami hubungan antara larangan dan hukuman, serta cara menunjuk pasal ketika berperkara.

    Bagi warga awam, struktur ini sering diabaikan. Padahal, memahami struktur membuat kita tahu bahwa suatu aturan di bab tertentu memiliki fungsi yang berbeda, misalnya mengatur kewajiban atau mengatur hukuman.

    Dalam penyusunan undang-undang, perubahan struktur biasanya terjadi selama pembahasan, sehingga naskah akhir yang disahkan dapat berbeda dari rancangan awal yang pernah dibaca publik.

    Perjalanan Bab Larangan1RancanganAda Bab Larangan2PembahasanBab dihapus3DipindahKe Bab KetentuanPidana4HasilPasal 129 sampai 135
    Alur menurut pemberitaan; alasan perubahan belum dijelaskan.

    Apa yang dilaporkan

    Pemberitaan menyebut UU SDI terdiri dari 20 bab dan 141 pasal. Dalam proses pembahasan, Bab Larangan dihapus dan substansinya dipindahkan ke Bab Ketentuan Pidana.

    Ketentuan pidana dilaporkan berada di Pasal 129 sampai 135. Isi larangan yang ikut berpindah tidak diuraikan secara rinci, sehingga kami tidak menyebut perbuatan apa saja selain yang dilaporkan di Pasal 133.

    Informasi tentang pemindahan ini muncul dari pemberitaan hasil pembahasan di DPR. Belum ada penjelasan terbuka yang memuat perbandingan sebelum dan sesudah, sehingga isi bab yang dihapus tidak dapat dipastikan.

    Dengan demikian, kata larangan tidak hilang dari UU SDI. Yang berubah hanya letaknya.

    Pasal pidana yang membawa larangan

    Pasal 133, menurut pemberitaan, memuat perbuatan yang diancam, yaitu menyerang, menyabotase, memanipulasi, menghancurkan, menyebarluaskan tanpa hak, dan mengambil alih pusat data nasional atau infrastruktur SDI.

    Dengan gabungan tersebut, perbuatan dan ancaman dibaca bersama dalam satu pasal. Hal ini mirip dengan gaya rumusan pidana pada banyak undang-undang, tempat larangan langsung disertai ancamannya.

    Perlu dicatat bahwa Pasal 134 dan 135 menambah dua hal, yaitu pemberatan bagi pejabat dan pidana korporasi. Keduanya melengkapi perbuatan yang tercantum dalam Pasal 133.

    Contoh sederhana: seseorang yang ingin tahu apakah menyebarluaskan data tanpa hak dilarang cukup membuka Pasal 133. Ia melihat bahwa perbuatan itu disebut sekaligus dengan ancaman penjara paling lama 15 tahun dan/atau denda kategori VIII.

    Struktur terpisah dan gabunganBab terpisahLarangan di satu babPidana di bab lainPembaca membuka dua tempatBab gabunganLarangan bersama ancamanRumusan lebih ringkasLebih mudah dirujuk
    Perbandingan umum, bukan pernyataan sumber.

    Kelebihan menggabungkan

    Penggabungan dapat memperpendek struktur, mengurangi pengulangan, dan menghindari perbedaan rumusan antara pasal larangan dan pasal ancaman. Pembaca juga lebih mudah menemukan akibat hukum suatu perbuatan.

    Bagi penegak hukum, rumusan gabungan memudahkan dakwaan karena unsur perbuatan dan ancaman berada berdekatan. Namun, ini penilaian umum, bukan pernyataan sumber tentang UU SDI.

    Pada saat yang sama, penggabungan membuat bab pidana bisa menjadi panjang jika perbuatan terlarang banyak. Namun, rentang Pasal 129 sampai 135 hanya tujuh pasal, sehingga bab tersebut relatif ringkas.

    Risiko dan catatan kritis

    Penggabungan membuat larangan baru terlihat hanya ketika membaca bab pidana. Warga yang tidak membaca bab itu bisa tidak sadar perbuatan apa yang dilarang, terutama jika rumusannya terlalu umum.

    Karena itu, ketepatan rumusan sangat penting. Praktisi biasanya mengingatkan bahwa pasal pidana harus jelas agar tidak multitafsir dan tidak digunakan secara berlebihan.

    Pasal pidana yang jelas juga melindungi warga. Kepastian rumusan membuat orang dapat memperkirakan akibat perbuatannya, dan membuat penegak hukum tidak bertindak sewenang-wenang.

    Praktisi hukum juga biasa menyoroti agar pasal pidana tidak terlalu luas. Rumusan yang kabur dapat menjerat perbuatan yang sebenarnya tidak dimaksudkan, sehingga perlu diuji dengan cermat saat penerapan.

    Alasan perubahan belum dijelaskan

    Sumber yang kami baca tidak menjelaskan alasan pembuat undang-undang memindahkan Bab Larangan. Kami tidak akan menebak motifnya, karena penjelasan resmi atau risalah pembahasan lebih tepat sebagai rujukan.

    Pembaca yang membutuhkan konteks dapat mencari risalah rapat panitia kerja dan penjelasan undang-undang setelah dipublikasikan oleh DPR atau pemerintah.

    Kemungkinan lain adalah penyederhanaan teknis demi konsistensi. Namun, itu hanya dugaan umum yang tidak boleh dipakai untuk menjelaskan alasan resmi pembentuk undang-undang.

    Cara membaca naskah resmi nanti

    Saat naskah resmi terbit, mulailah dari daftar isi, buka bab ketentuan pidana, lalu catat setiap perbuatan yang dilarang. Setelah itu cek definisi istilah penting pada bab ketentuan umum.

    Terakhir, periksa pasal peralihan dan ketentuan penutup untuk mengetahui tanggal berlaku dan masa transisi. Semua itu belum diketahui, tetapi biasanya tercantum di bagian akhir undang-undang.

    Dengan langkah itu, pembaca tidak bergantung pada ringkasan pihak lain. Naskah resmi tetap menjadi satu-satunya rujukan yang sah untuk mengetahui larangan dan ancaman yang berlaku.

    Contoh kasus

    Contoh: Seorang pegawai swasta yang terhubung dengan sistem instansi ingin tahu apa saja yang dilarang UU SDI. Ia mencari bab larangan dan tidak menemukannya. Berita menyebut bab itu dipindah ke bab pidana, jadi ia perlu membaca Pasal 129 sampai 135 pada naskah resmi, bukan mengandalkan ringkasan media sosial.

    Hal untuk diperiksa pada naskahDaftar perbuatan dalam Pasal 129 sampai 135Definisi istilah di ketentuan umumPasal peralihanTanggal mulai berlakuPenjelasan undang-undang
    Langkah membaca naskah resmi.

    Hal yang sering keliru

    • Mengira UU SDI tidak memuat larangan karena Bab Larangan dihapus.
    • Mengira isi larangan sudah dirinci lengkap oleh pemberitaan.
    • Mengira struktur bab pasti sama pada naskah akhir tanpa memeriksanya.
    📌 Catatan

    Catatan: artikel ini edukasi umum berdasarkan pemberitaan hingga 16 Oktober 2026 dan bukan nasihat hukum. Nomor undang-undang, tanggal berlaku, dan bunyi pasal perlu dicek pada naskah resmi.

    📚 Sumber Rujukan

    Informasi per 16 Oktober 2026. Artikel ini bersifat edukatif dan bukan nasihat hukum untuk perkara tertentu.

    Dasar hukum

    • Undang-Undang Satu Data Indonesia (disahkan DPR 6 Oktober 2026; nomor menyusul)
    • Prinsip umum penyusunan peraturan perundang-undangan

    Dalam kategori yang sama

    WhatsApp